• Kamis, 18 Agustus 2022

Tuhan Luka Lecet?

Maximus Ali Perajaka
- Sabtu, 18 Juni 2022 | 17:23 WIB
P Kons Beo SVD
P Kons Beo SVD

Oleh P. Kons Beo, SVD

Beberapa tahun silam, selepas perayaan ekaristi (misa) pagi, saya panggil koster yang bertugas. Kepadanya diluncurkan satu pertanyaan dalam gaya Flores, “Kenapa kau taro anggur begitu sedikit tadi?”

Si koster sedikit kaget. Heran-heranlah dia soal tanya anggur untuk misa tadi. Salahnya di mana? Toh, tetap ada anggur untuk misa. Tak ada yang dilupakan. Yang jadi soal, itu tadi, ‘taro anggur sedikit saja.’

Saya hanya bilang, “Adik, lain kali anggur misa tu kau taro agak banyak-sedikit ka! Yesus itu mati berdarah-darah. Bukannya mati berdarah luka lecet.”

Baca Juga: Seorang PSK Tewas Dibakar Dengan Tuduhan Penistaan Agama Karena Simpan Al-Qur’an di Kamarnya

Maka pahamlah si koster bahwa Tubuh yang terluka ngeri menyisahkan tetesan dan gumpalan darah berceceran. Sebab itulah anggur misa mesti penuh ampul.

Tetapi, apakah koster berpikir lain bahwa saya sebenarnya mau minum lebih banyak anggur?  Entalah. 

The Passion of Christ, film di tahun 2004 itu memang mengerikan. Mel Gibson, sang sutrada, dengan caranya sendiri telah riliskan kisah sengsara Yesus teramat keji. Tetapi nyatanya itulah yang ‘disenangi’ umat Kristiani.

Sungguh, derita Yesus jelang kematianNya di Kalvari sungguh nyata dan amat menggetirkan. Tak peduli apa ia beraura anti-semitism yang bernada rasism. Seolah-olah begitu sadisnya bangsa Yahudi yang menjadi otak kematian seram untuk seorang tokoh yang menyebut diriNya Putera Allah.

Halaman:

Editor: Maximus Ali Perajaka

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ketika ‘Nafsu Kemurnian’ Menjerat

Minggu, 7 Agustus 2022 | 22:32 WIB

Uskup  Sheen dan Bom Hiroshima

Minggu, 7 Agustus 2022 | 21:11 WIB

RIP MGR HUBERT

Minggu, 31 Juli 2022 | 19:28 WIB

Kecerdasan Luar Bumi dan Iman Katolik'

Senin, 25 Juli 2022 | 12:16 WIB

Masih Adakah Selera Humor di Hati Kita?

Rabu, 13 Juli 2022 | 09:40 WIB
X