Selama hari-hari itu, beliau bertemu dengan para uskup dan pemimpin agama, tidak hanya dari Sudan Selatan tetapi juga dari berbagai negara tetangga - Ethiopia, Kenya, Uganda, Zambia - yang datang untuk menemaninya dan mengungkapkan solidaritas mereka dengan bangsa tersebut.
Baca Juga: Lalu Yesus Membuka Pikiran Mereka sehingga Mereka Mengerti Kitab Suci'
Bertemu dengan para pengungsi
Namun, pertemuannya dengan para pengungsi di Freedom Hall di Juba-lah yang meninggalkan kesan abadi pada Kardinal Ameyu.
“Beliau berbicara langsung kepada mereka. Beliau mendengar kesaksian mereka - mereka yang telah mengungsi sejak tahun 2013, mereka yang kehilangan segalanya karena perang dan banjir,” kenangnya.
Kardinal Ameyu menekankan bahwa Sudan Selatan tidak hanya dilanda konflik tetapi juga bencana terkait iklim.
Kami mengalami berbagai macam bencana, jelasnya, “Beberapa bencana alam - disebabkan oleh banjir yang telah menyapu desa-desa di utara. Yang lainnya adalah ulah manusia, seperti perang yang dimulai pada tanggal 15 Desember 2013, dan terus menggusur penduduk kami.”
Seorang pembela orang-orang yang terlupakan
Paus Fransiskus, kata Kardinal, adalah salah satu dari sedikit pemimpin dunia yang terus-menerus mengakui penderitaan ini.
Baca Juga: Paus Fransiskus 'Menciptakan Kesulitan'
“Di dunia ini, di mana terdapat banyak perang, ada perang yang terlupakan. Perang kita telah dilupakan, tetapi ia selalu membicarakannya. Itulah sebabnya kami katakan, kami telah kehilangan seorang pria hebat, pembela kami,” tegasnya.
“Kami bersyukur kepada Tuhan atas kehidupan Paus Fransiskus,” pungkas Kardinal Ameyu. “Namun kami juga berduka - karena kami telah kehilangan orang yang melihat kami, yang berdiri bersama kami, dan yang tidak pernah membiarkan dunia melupakan kami.”