Renungan Harian Katolik, Rabu , 23 April 2025 Bacaan Oktaf Paskah
Dan terjadilah, ketika Ia sedang makan bersama mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka mengenali-Nya, tetapi Ia menghilang dari pandangan mereka.
Lalu mereka berkata satu sama lain, "Bukankah hati kita berkobar-kobar ketika Ia berbicara kepada kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" Lukas 24:30–31
Dua orang murid Yesus sedang mendiskusikan kejadian-kejadian minggu lalu saat mereka berjalan kaki sejauh tujuh mil di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Emaus.
Sebelumnya mereka berharap bahwa Yesus adalah satu-satunya yang akan menebus Israel—tetapi kemudian Ia dibunuh. Dan tiga hari kemudian, ada desas-desus tentang Kebangkitan-Nya, yang hanya membuat mereka bingung.
Saat mereka dalam perjalanan, Yesus menampakkan diri kepada kedua murid itu, tetapi mereka tidak mengenali-Nya pada awalnya. Identitas-Nya tersembunyi dari mata mereka. Yesus mendengarkan mereka dan mengungkapkan kesedihan atas kurangnya pemahaman mereka, jadi Ia menjelaskan kepada mereka ajaran-ajaran Musa dan para nabi dan bahwa Mesias perlu menderita, mati, dan bangkit pada hari ketiga.
Saat Yesus berbicara, para murid mulai mengerti, dan hati mereka berkobar-kobar. Akhirnya, dalam karunia Ekaristi Kudus, dalam pemecahan Roti, mata mereka terbuka untuk melihat bahwa Yesus bersama mereka.
Baca Juga: Terangilah Arwah Para Saudara Kami, Khsusunya Bapa Suci Paus Fransiskus, dengan Cahaya Abadi
Mengapa Yesus menyembunyikan kehadiran-Nya yang telah bangkit dari para murid ini? Tampaknya Ia melakukannya karena mereka kurang beriman. Mereka berkata, “…kami berharap bahwa Dialah yang akan menebus Israel.”
Namun Penyaliban itu terlalu berat bagi mereka. Mereka tidak dapat memahami mengapa Sang Penebus harus menderita seperti yang Yesus alami, sehingga mereka mulai ragu.
Terlalu sering kita seperti para murid yang bingung tentang masalah iman dan bergumul dengan keraguan. Karena alasan itu, kita harus melihat diri kita dalam pribadi para murid ini saat mereka berjalan menuju Emaus.
Yesus menawarkan kepada para murid ini karunia belas kasihan yang luar biasa dengan membantu mereka memahami tindakan penyelamatan-Nya. Ia menjelaskan kepada mereka semua yang diajarkan dalam Kitab Suci tentang Dia. Dan saat para murid ini mendengarkan Yesus mengajar mereka, mereka perlahan-lahan menjadi percaya.
Kita juga harus membiarkan Yesus mengajarkan kita tentang kuasa transformasi dari kematian dan kebangkitan-Nya. Kita harus mendengarkan dengan penuh perhatian dan membiarkan hati kita berkobar saat kita mendengarkan Sabda-Nya yang kudus.
Hanya dengan cara ini kita akan mencapai tingkat iman yang kita butuhkan untuk lebih memahami dan menerima kuasa transformasi dari Misteri Paskah.