Renungan Harian Katolik 17 April 2026 Jumat Pekan Kedua Paskah
Yesus naik ke gunung, lalu duduk bersama murid-murid-Nya. Hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat. Ketika Yesus mengangkat mata-Nya dan melihat banyak orang datang kepada-Nya, Ia berkata kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli cukup makanan untuk mereka makan?” Yohanes 6:3-5
Pernahkah Anda menghadapi situasi di mana Anda merasa putus asa? Beberapa orang mengalami kemiskinan yang parah, tidak yakin dari mana makanan mereka selanjutnya akan datang.
Yang lain bergumul dengan perpecahan keluarga, yang menyebabkan rasa takut dan kecemasan yang mendalam. Beberapa berjuang melawan kecanduan, tidak yakin bagaimana mereka akan bisa bebas.
Yang lain lagi menghadapi rintangan yang tampaknya tak teratasi. Injil hari ini mengingatkan kita bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah.
Kisah penggandaan roti dan ikan dimulai dengan percakapan yang menarik antara Yesus dan dua murid-Nya.
Yesus bertanya kepada Filipus di mana mereka dapat membeli makanan untuk orang banyak, meskipun Ia tahu mereka tidak memiliki cukup uang maupun tempat untuk membeli makanan.
Baca Juga: Hari Keempat di Afrika: Paus Leo XIV Serukan Akhir Krisis Anglophone di Kamerun
Pertanyaan ini lebih merupakan sebuah pernyataan, yang menunjukkan kepada kita bahwa kita harus selalu bergantung pada pemeliharaan ilahi, terutama ketika dihadapkan pada hal yang mustahil.
Dari sudut pandang manusia, memberi makan kerumunan besar di puncak gunung adalah hal yang mustahil. Demikian pula, kita semua menghadapi situasi dalam hidup yang, dengan cara manusia, menghadirkan tantangan yang tak teratasi.
Jika kerumunan itu hanya berjumlah sekitar dua puluh orang, salah satu murid mungkin dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan solusi praktis, seperti membeli makanan dari desa terdekat. Jadi, ketika tantangan dalam hidup memiliki solusi yang masuk akal dalam kemampuan kita, kita harus mengejarnya. Ketika upaya manusia saja tidak cukup, kita harus berpaling kepada kehendak ilahi.
Jawaban Filipus mengungkapkan perspektifnya yang murni rasional: “Makanan senilai upah dua ratus hari tidak akan cukup untuk masing-masing dari mereka mendapatkan sedikit.”
Sebaliknya, Andreas menunjukkan secercah iman dan harapan ketika ia menunjuk, “Di sini ada seorang anak laki-laki yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa gunanya semua itu bagi begitu banyak orang?”
Peran anak laki-laki itu sering diabaikan. Meskipun Injil hanya sedikit bercerita tentangnya, jelas bahwa ia mempercayakan segala miliknya kepada Yesus. Mungkin tindakan kepercayaan kecil inilah yang memungkinkan Yesus melakukan mukjizat.