Bacaan I Ayub 3:1-3.11-17.20-23
Mazmur Tanggapan Mzm 88:2-3.4-5.6.7-8
Injil Lukas 9:51-56
"Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku...."
Ayub 3:3
(Pereat dies in qua natus sum...)
DIDERA rasa putus asa mencekam. Itulah krisis berat yang dihadapi Ayub. Segalanya hilang begitu saja. Apapun yang diandalkannya telah berlalu. Tinggalkan duka nan mencekam.
Baca Juga: Bacaan Injil Hari Selasa 2t September 2022, PW St. Vinsensius a Paulo (Lukas 9:51-56)
AYUB membombardir segala kisah kelahiran dan jalan hidupnya dalam litania kutukan. Tak ada apapun yang dapat ia banggakan dan harapkan. Semuanya hampa! Sia-sia di segala lini.
AYUB, sungguh, adalah tumpukan kisah teramat pahit. Menyakitkan. Penuh ujian yang tak tertanggungkan. Rintihnya, "Mengapa aku tak mati waktu aku lahir? Atau binasa ketika aku keluar dari kandungan?" (Ayb 3:11). Hidup, bagi Ayub, adalah tangisan hati menjerit. Sampai kapan semuanya mesti terhenti? Entahlah!
SEPERTINYA, Allah malah memperpanjang situasi penuh rumit ini. Dan Ayub pun tetap berontak akan semuanya. "Mengapa aku tidak seperti anak gugur yang disembunyikan, seperti bayi yang tidak melihat terang?" (Ayb 3:16). Hidup adalah rentetan kisah kemalangan yang sungguh tak kunjung berakhir.
Baca Juga: Bacaan I Hari Selasa 2t September 2022, PW St. Vinsensius a Paulo (Ayub 3:1-3,11-17,20-23)
JALAN hidup sering terbentang duri. Itulah yang kita alami pula. Kegagalan demi kegagalan datang beruntun. Jeritan hati terungkap getir. Tak tertahankan. Cobaan demi cobaan tetap menghadang. Dan sepertinya kita tak pernah berhasil untuk sudahi semuanya dengan indah.
MUNGKIN saja kita berlari pada doa dan pada keheningan batin. Kita berjuang untuk sebisanya menangkap suara pembebasan dari Tuhan. Namun, nyatanya? Kita tetap gagal dan terus tak berhasil. Kepahitan demi kepahitan adalah keharusan yang mesti kita hadapi dan alami.
KITA akhirnya jadi sadar dan terbuka batin. Doa justru membawa kita kenyataan hidup yang sesungguhnya. Doa bukan pembebasan murahan seperti yang kita bayangkan. Bukan pula solusi mudah dan cepat saji. Agar badai-badai kehidupan segera berlalu pergi dan sirna. Bukan!
Baca Juga: Renungan Harian Katolik, Selasa, 27 September 2022: Keinginan untuk Balas Dendam
DALAM doa, Tuhan hanya berbisik ''Inilah kenyataan hidup yang sesungguhnya. Hadapilah semuanya dengan kebesaran hati dan kesetiaan iman.'' Dalam jatuh dan bangun! Iman teruji dalam badai. Dalam kebertahanan menyusuri dan merenungi semua yang tak pasti. Dalam pertarungan untuk tetap berharap pada cahaya walau di tengah kepekatan kabut kehidupan.
HIDUP ini 'bukan milik kita.' Ia jauh melampaui apa yang kita ingini dan yang kita pastikan. Duka lara di hari-hari ini bisa berubah jadi ceriah di hari dan kisah mendatang. Tawa ria di saat kini, bisa berubah jadi mendung penuh hujan air mata di kisah berikutnya.
Artikel Terkait
Renungan Katolik Kamis, 15 September 2022 (Pekan XXIV, St Perawan Maria Berdukacita, St Katarina Fieschi)
Renungan Katolik Jumat, 16 September 2022 (St Kornelius & St Siprianus)
Renungan Katolik Sabtu, 17 September 2022
Renungan Katolik, Senin, 19 September 2022
Renungan Katolik, 20 September 2022
Renungan Katolik, Rabu, 21 September 2022
Renungan Katolik, Kamis, 22 September 2022 (Pekan Biasa XXV, St Thomas dr Villanova)
Renungan katolik, Jumat, 23 September 2022 (Pekan Biasa XXV, St Padre Pio dari Pietrelcina)
Renungan Katolik, Sabtu, 24 September 2022 (Pekan Biasa XXV, St Gerardus Sagredo, St Pasifikus)
Renungan Katolik Senin, 26 September 2022 (Pekan Biasa XXVI, St Damianus, St Kosmas, St Paulus VI-Paus ke 262)