• Sabtu, 18 April 2026

Surat Gembala Prapaskah/Paskah 2025 Uskup Labuan Bajo

- Sabtu, 5 April 2025 | 13:03 WIB
Mgr Maksimus Regus, Uskup Keuskupan Labuan Bajo
Mgr Maksimus Regus, Uskup Keuskupan Labuan Bajo

PERTOBATAN EKOLOGIS:
MERAWAT CIPTAAN, MENGHADIRKAN HARAPAN”


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Gereja, dalam perjalanan Prapaskah, menjelang Pesta Paskah 2025, mengajak kita merenungkan panggilan untuk “pertobatan ekologis”.

Gagasan ini sudah menjadi bagian utama perjalanan Gereja se-jagat selama satu dekade terakhir. Ensiklik Laudato Si’ (2015) dari Paus Fransiskus menjadi titik berangkat bersama dari perjalanan pertobatan ekologis ini.

Dalam nada yang sama, sepuluh tahun kemudian (2025), Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC, Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia) melontarkan kembali itikad yang sama.

Dalam keheningan perjalanan Puasa dan suka cita menyambut terang Paskah, kita dipanggil untuk mengisi pertobatan ekologis ini dengan “merawat ciptaan” sekaligus “menghadirkan harapan” di tengah ancaman krisis ekologis dan kehidupan yang semakin nyata.

Karena itu, dalam semangat persaudaraan kristiani, saya ingin menyampaikan beberapa pokok berikut ini.

1. Ekologi: Anugerah yang Harus Dijaga

Allah menciptakan dunia dalam kebaikan dan mempercayakannya kepada manusia (Kejadian 1:31). Keindahan alam Flores dan Labuan Bajo bukanlah hasil usaha manusia, melainkan berkah istimewa dari Tuhan.

Namun, kerakusan dan ketiadaan solidaritas sosial dapat mengubah berkah ini menjadi bencana ekologi dan sosial.

Seperti dikatakan oleh Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ (LS 95): “Lingkungan adalah anugerah kolektif yang harus kita jaga bersama.”

Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain, semua pihak harus memperlihatkan tanggung jawab merawat dan menjaga keseimbangan ekologis demi generasi mendatang sebagai bagian dari budaya dan etika kehidupan yang lahir dari semangat Prapaskah dan Paskah 2025.

2. Sikap Terhadap Eksploitasi Energi

Dalam semangat Surat Pastoral FABC (2025), Para Uskup Provinsi Gerejawi Ende beberapa waktu lalu telah menegaskan penolakan terhadap eksploitasi energi geothermal di Pulau Flores.

Geothermal memang disebut sebagai energi terbarukan, tetapi untuk konteks Flores, eksplorasi ini justru mengancam keseimbangan ekologis dan ruang sosial-budaya masyarakat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Maximus Ali Perajaka

Tags

Artikel Terkait

Terkini

'Ternyata Mesti Ada Batas Ketenaran Itu...'

Jumat, 17 April 2026 | 09:39 WIB

Sebuah Kata Penutup tentang Budaya Katolik

Rabu, 15 April 2026 | 21:42 WIB

'Malam Penuh Cahaya Iman'

Senin, 13 April 2026 | 06:02 WIB

Menghadirkan Wajah Allah Berbelas Kasih

Sabtu, 11 April 2026 | 19:37 WIB

Pengakuan Seorang 'Sumber Rahasia' dari Vatikan

Sabtu, 11 April 2026 | 08:00 WIB

'...tidak percaya' (Non crediderunt)

Sabtu, 11 April 2026 | 07:24 WIB

'Pakaian Kemuridan Tetaplah Kita Kenakan'

Kamis, 9 April 2026 | 18:13 WIB

'Menjadi Murid yang Diinjili

Kamis, 9 April 2026 | 18:01 WIB

Kiranya Mata Iman Kita Senantiasa Terjaga

Rabu, 8 April 2026 | 08:31 WIB

Sari Firman: Memotivasi Diri: Pertobatan Sejati

Selasa, 7 April 2026 | 11:47 WIB

Pesan Inspiratif: Maria Magdalena Menangis

Selasa, 7 April 2026 | 06:15 WIB

'Tuhanku Tak Terkalahkan...'

Selasa, 7 April 2026 | 06:10 WIB

Reuni Galilea

Senin, 6 April 2026 | 08:04 WIB
X