Oleh P. Kons Beo, SVD
Teringat satu kisah singkat. Sederhana. Di sekitar akhir tahun 90-an. Saat itu John Prior ada di Roma. Hadiri sidang di Vatikan. Seputar Misi dan Budaya. Maklum, John adalah salah seorang penasihat Paus tentang kebudayaan. Mungkin hanya sedikit orang yang tahu tentang tugas mulianya ini.
Oh iya, mari kita lanjut. Di suatu pagi, saat hendak ke tempat meeting di Vatikan, ketika keluar dari kamar, John terkejut. Kami berpapasan di lorong Collegio, Jenderalat SVD. Raut wajahnya agak terkejut. “Hae, ini Beo to? Kau buat apa di sini?”
Baca Juga: Seorang Pekerja SOS Christians Ceritakan Pengalaman Diculik Selama 66 hari Oleh Jihadis di Suriah
John tetap usil untuk tanya yang model begini. “Pasti kau belum lulus, her banyak di Ledalero,” lanjut John. John tetap lanjut dengan banyak tanya. Suaranya khas. Terdengar kuasai koridor collegio.
Saya juga sempat terkejut! Tapi sedikit senyum. Nyaris pica ketawa juga. John telak menebak gesture saya. “He, Beo! Aku mbeò (tahu: bahasa Lio) kenapa kau senyum.”
Ini yang akhirnya bikin saya tak bisa tahan ketawa kuat-kuat.
Baca Juga: Aksi Protes Para Imam Katolik di Nigeria: Kami Pastor, Bukan Teroris
Ini gara-gara saya lihat John pagi itu “pake baju kolar. Dengan jas. Sepatu itam mengkilat.” Gagah dan rapih. Juga sambil tenteng tas kulit yang tampaknya baru. Saya juga punya feeling. John sengaja tanya saya sana sini. Hanya untuk membunuh konsen saya pada kerapihannya.
Mujur-mujur saya bisa lihat seorang John Prior tampil seglamour bernuansa klerikal. Puluhan tahun lalu, di Ledalero, sebagai muridnya, teramat jarang bahkan tidak pernah terlihat John dengan ciri pakaian klerikal seperti itu.
Saya hanya bilang, “Wah, Bapak Uskup Anglikan mau bertemu Pauskah?” John hanya senyum kecut. Dan ia hanya bilang “Beo, kau kurag ajar, betul.” John terlihat bersikap kaku dengan ‘pakaian berciri klerus itu.’ Saya dengan bakat koment tetap serang-serang ringan, “Tuan pasti takut dicegat pengawal Swiss untuk masuk Vatikan. Makanya, tampil gagah.
Baca Juga: Renungan Sabtu, 02 Juli 2022 (Pekan Biasa XIII, St Bernadinus Realino)
”Saya pun masih lanjut, “Pemandangan langkah ini mesti diberitakan di BPE.” BPE itu “Berita Provinsi Ende.” Isinya seputar informasi keadaan Provinsi SVD Ende.
Dengar celotehan itu, John cuma tertawa saja. Tetapi, salah tingkah, itu tadi, tetap tak ia kuasai.
Artikel Terkait
Tiga Misionaris Indonesia Nyekar ke Makam Bernard Bode SVD di Belanda
Romo Markus Solo SVD Damping Dua Pemimpin Buddha dari Mongolia di Vatikan
Misionaris SVD, Bung Karno dan Benih-Benih Kelahiran Pancasila (jelang Perayaan 1 Juni di Ende, Flores)
Padre Marco SVD Dampingi Menag Yaqut, Ketua PBNU dan Rombongan Tur di Basilika St Petrus, Vatikan
Jumpa Para Sahabat Muslim di 'Coopera 2022', Padre Marco SVD: Jangan Tinggalkan Seseorang di Belakang
Padre Marco SVD: Lega, Muslimah Asal Kazakhstan Lulus dari Pendidikan Yayasan Nostra Aetate, Vatikan
Pater Kanis Bhila, SVD Rayakan Pesta Perak, Proficiat
Pater Maurimus Dominggus, SVD, Misionaris Asal Indonesia di Brasil Selatan, Berpulang
Pater John Prior SVD, Misionaris Asal Inggris dan Ilmuwan yang Rendah Hati Itu, Tutup Usia, RIP
Uskup KAJ, Mgr Ignatius Kardinal Suharyo: Pastor John Prior SVD, Misionaris yang Militan