Oleh: Pater Steph Tupeng Witin, SVD
Luk 24:35-48
Murid-murid larut dalam kisah dua orang rekan mereka yang ditemani Yesus dalam perjalanan ke Emaus. Dua murid itu mengenali Tuhan ketika Ia memecah-mecahkan roti (Luk 24:35).
Tuhan yang bangkit menghadirkan wajah-Nya dalam Ekaristi. Saat pintu-pintu rumah terkunci dan tertutup rapat (Yoh 20:19).
Pintu yang tertutup rapat itu simbol ketakutan agung dari para murid Yesus kepada orang Yahudi, khusus kaum elite bangsa Yahudi dan militer Romawi.
Tuhan yang bangkit itu tiba-tiba berdiri di tengah mereka. Para murid yang sedang digenangi ketakutan itu terkejut, takut dan menyangka Dia adalah hantu.
Padahal Yesus memberikan salam damai sejahtera kepada murid-murid-Nya (Luk 24:36-37). Lalu Tuhan berusaha menghalau ketakutan dan kebimbangan para murid-Nya dengan menunjukkan tangan-Nya dan kaki-Nya bekas paku pada kayu salib di Golgotha.
“Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini. Raba dan lihatlah karena hantu tidak ada daging dan tulangnya” (Luk 24:39-40).
Santo Ambrosius menulis, “Tuhan menembus masuk ruang yang tertutup bukan karena kodrat-Nya yang sudah tidak berdaging, tetapi karena Ia memiliki kualitas tubuh yang telah dibangkitkan.”
Baca Juga: Bagaimana dan Kapan Mengunjungi Jenazah Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus, Vatikan
Tuhan yang sedang menunjukkan tangan-Nya dan kaki-Nya bekas paku di kayu salib itu adalah Yesus Kristus yang sama yang mereka saksikan digantung di kayu salib.
Ia bukan hantu atau roh, pneuma. Kebangkitan-Nya dari antara orang mati adalah kebangkitan seluruh pribadi, tubuh dan roh. Tuhan Yesus hadir konkret.
Bukan sebagai roh atau bayang-bayang tetapi pribadi yang nyata. Ia memperlihatkan tangan tangan-Nya dan kaki-Nya yang penuh luka-luka salib.
Ia ingin para rasul-Nya tahu: Inilah Aku, Yesus, yang dahulu bersamamu, yang telah disalibkan, kini hidup kembali.
Namun apa yang dilakukan Yesus belumlah cukup untuk menghalau, apalagi menghapus keraguan dari benak para murid-Nya.