Baca Juga: Refleksi 107: Mengungkapkan Jiwa Anda dalam Pengakuan Dosa
Santo Lukas melukiskan bahwa para murid sangat kegirangan sehingga tidak dapat memercvaya-Nya. Luapan emosi membuat para murid-Nya tidak mampu berpikir jernih.
Tuhan kemudian meminta sepotong ikan dan memakannya di depan mereka. Pesannya: Ia telah bangkit dari antara orang mati.
Rupanya para murid dan umat Gereja Perdana sulit mengimani Kristus yang tersalib karena tertulis dalam hukum Tuhan bahwa orang yang disalib adalah “orang yang dikutuk” (Ul 21:22-23).
Ketika menunjukkan tangan-Nya dan kaki-Nya yang terluka, Tuhan mengingatkan kita bahwa tubuh itu berharga. Tubuh kita adalah ciptaan yang mulia, bukan karena sempurna, melainkan karena mengandung kisah kasih dan kehidupan.
Saat Ia bangkit dari alam maut, Ia tidak membuang tubuh-Nya dan tidak menghapus bekas luka-Nya. Ia justru menunjukkan luka pada tangan-Nya dan kaki-Nya sebagai bukti kasih dan pengorbanan.
Luka-Nya menjadi tanda kemenangan, bukan kehinaan, apalagi aib. Tuhan sesungguhnya mengingatkan kita: tubuh yang memiliki luka, cacat, atau kekurangan, bukan berarti tidak layak atau hina.
Baca Juga: Presiden Prabowo Utus Jokowi, Thomas Djiwandono, Ignasius Jona dan Pigai Hadiri Pemakaman Paus
Malahan melalui luka, cacat dan kekurangan itu kita membaca cerita yang mendalam, ada proses, ada perjuangan kemanusiaan dan ada karya kasih Allah.
Tuhan yang telah bangkit dari alam maut bukan sekadar kemenangan rohani tapi nyata dalam tubuh yang sama dan kini dimuliakan.
Peristiwa kebangkitkan menginsafkan kita bahwa Tuhan tidak memisahkan antara yang jasmani dan rohani.
Tubuh manusiawi kita ini meski rapuh, luka dan cacat tetap selalu berharga. Kita tidak perlu menyembunyikan luka-luka dalam tubuh kita karena mengandung kisah hidup, guratan perjuangan dan narasi dari cinta yang berkurban.
Tubuh Tuhan yang bangkit pun tetap mengabadikan luka bekas paku Kalvari. Tuhan tidak datang dengan tubuh sempurna tanpa bekas luka melainkan dengan bekas luka yang menarasikan kasih-Nya.
Tuhan mengajak kita merawat tubuh kita, menhormatinya sebagai anugerah dan mempersembahkannya demi kemuliaan Tuhan dan kebahagiaan sesama.
Kebangkitan Tuhan tidak berarti membuang yang lama tapi justru Ia menyempurnakannya. ***
Artikel Terkait
Kongregasi Umum Kardinal Dimulai di Vatikan
Wasiat Paus Fransiskus
Warga Masyarakat Datangi Kedubes Vatikan untuk Ucapkan Bela Sungkawa atas Berpulangnya Paus Fransiskus
Jenazah Paus Fransiskus Dipindahkan dari Casa Santa Marta ke Basilika Santo Petrus
Kilas Balik, 10 Ucapan Paus Fransiskus yang Paling Menyentuh Hati