• Sabtu, 18 April 2026

Tubuh (Kita) Berharga

- Rabu, 23 April 2025 | 20:39 WIB
Pater Steph Tupeng Witin
Pater Steph Tupeng Witin

Baca Juga: Refleksi 107: Mengungkapkan Jiwa Anda dalam Pengakuan Dosa

Santo Lukas melukiskan bahwa para murid sangat kegirangan sehingga tidak dapat memercvaya-Nya. Luapan emosi membuat para murid-Nya tidak mampu berpikir jernih.

Tuhan kemudian meminta sepotong ikan dan memakannya di depan mereka. Pesannya: Ia telah bangkit dari antara orang mati.

Rupanya para murid dan umat Gereja Perdana sulit mengimani Kristus yang tersalib karena tertulis dalam hukum Tuhan bahwa orang yang disalib adalah “orang yang dikutuk” (Ul 21:22-23).

Ketika menunjukkan tangan-Nya dan kaki-Nya yang terluka, Tuhan mengingatkan kita bahwa tubuh itu berharga. Tubuh kita adalah ciptaan yang mulia, bukan karena sempurna, melainkan karena mengandung kisah kasih dan kehidupan.

Saat Ia bangkit dari alam maut, Ia tidak membuang tubuh-Nya dan tidak menghapus bekas luka-Nya. Ia justru menunjukkan luka pada tangan-Nya dan kaki-Nya sebagai bukti kasih dan pengorbanan.

Luka-Nya menjadi tanda kemenangan, bukan kehinaan, apalagi aib. Tuhan sesungguhnya mengingatkan kita: tubuh yang memiliki luka, cacat, atau kekurangan, bukan berarti tidak layak atau hina.

Baca Juga: Presiden Prabowo Utus Jokowi, Thomas Djiwandono, Ignasius Jona dan Pigai Hadiri Pemakaman Paus

Malahan melalui luka, cacat dan kekurangan itu kita membaca cerita yang mendalam, ada proses, ada perjuangan kemanusiaan dan ada karya kasih Allah.

Tuhan yang telah bangkit dari alam maut bukan sekadar kemenangan rohani tapi nyata dalam tubuh yang sama dan kini dimuliakan.

Peristiwa kebangkitkan menginsafkan kita bahwa Tuhan tidak memisahkan antara yang jasmani dan rohani.

Tubuh manusiawi kita ini meski rapuh, luka dan cacat tetap selalu berharga. Kita tidak perlu menyembunyikan luka-luka dalam tubuh kita karena mengandung kisah hidup, guratan perjuangan dan narasi dari cinta yang berkurban.

Tubuh Tuhan yang bangkit pun tetap mengabadikan luka bekas paku Kalvari. Tuhan tidak datang dengan tubuh sempurna tanpa bekas luka melainkan dengan bekas luka yang menarasikan kasih-Nya.

Tuhan mengajak kita merawat tubuh kita, menhormatinya sebagai anugerah dan mempersembahkannya demi kemuliaan Tuhan dan kebahagiaan sesama.

Kebangkitan Tuhan tidak berarti membuang yang lama tapi justru Ia menyempurnakannya. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Maximus Ali Perajaka

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Renungan 108: Suara Gereja

Sabtu, 18 April 2026 | 14:04 WIB

Menjelajahi Kegelapan Ketakutan

Sabtu, 18 April 2026 | 13:49 WIB

Bacaan Liturgis, Sabtu Pekan kedua Paskah

Jumat, 17 April 2026 | 19:30 WIB

Ratu Surga, Bersukacitalah, Alleluya

Jumat, 17 April 2026 | 14:54 WIB

Putera Allah yang Hidup, Berkatilah UmatMu

Jumat, 17 April 2026 | 14:51 WIB

Rahmat Ilahi Tak Pernah Gagal

Jumat, 17 April 2026 | 11:18 WIB

Tuhan, Perhatikanlah HambaMu.

Kamis, 16 April 2026 | 13:30 WIB

Renungan 106: Tidur dalam Kristus

Kamis, 16 April 2026 | 10:08 WIB

Keyakinan yang Mengubah

Kamis, 16 April 2026 | 10:01 WIB

Tinggallah Beserta kami, ya Tuhan.

Kamis, 16 April 2026 | 06:21 WIB

Bacaan Liturgis pada Kamis Pekan ke-2 Paskah

Rabu, 15 April 2026 | 22:25 WIB
X