Baca Juga: Presiden Prabowo Utus Jokowi, Thomas Djiwandono, Ignasius Jona dan Pigai Hadiri Pemakaman Paus
Tetapi.....
Sekiranya aku, misalkan, sebagai seorang misionaris, dipanggil untuk hidup dan melayani daerah-daerah sulit dan amat terbatas, namun 'sukacita injil tetap berkobar dalam hati dan aku setia penuh sukacita layani umat Allah, betapa aku miliki kemiskinan roh dan kesederhanaan Injili.
Aku tetap hadir sebagai misionaris 'inkarnatif' yang tak diterjang dan tak mudah cemar oleh arus hati penuh keluhan, dan terus mengeluh.
Memang, bisa saja ada sisi lain yang berseberangan. Seperti misal, aku dikagumi bisa bertahan dan dedikatif di padang gurun pelayanan bersama dan demi umat Allah.
Sayangnya, hatiku sebenarnya tetap mati-matian dambakan teritori 'berkelimpahan susu dan madu.'
Aku dikagumi karena 'sederhana dan miskin apa adanya.' Namun itu semua karena memang situasi setempat serba kurang dan terbatas yang tak menunjang harapan dan impianku.
Di sudut hati terdalam aku sebenarnya terantai oleh 'jarak dan suasana batin nan gelisah akan segala jaminan dan ketersediaan.'
Mari nyebrang ke alam lain.
Tetapi, walau dikepung oleh alam dan situasi serba wah, serba mudah, yang serba ditanyai dengan berondongan pertanyaan biasa, "Romo mau butuh apa? Ayo, bilang ya!"
Toh, sang Romo tetap punya filter untuk tetap bertahan pada 'seperlunya dan kesederhanaannya. Iya, bertahan pada apa yang memang dibutuhkan. Bertahan dalam spirit 'ini sudah cukup buatku.' Luar biasa kan?
Ternyata soal hidup sederhana - miskin atau pun sebaliknya hidup mewah berkelimpahan tidak sepantasnya berdasarkan situasi atau keadaan. Atau katakan seperti 'keterpaksaan' atau sebaliknya 'mumpungisme - oportunisme a la carpe diem.'
Artinya, terpaksa 'sederhana - miskin karena memang situasi memaksa. Atau kemudian 'mari berfoyah-foyah selagi ada kesempatan...'
Di hari kemarin, selasa 22 April 2025, syukurlah saya bisa sambangi domus Santa Marta, menuju Kapela tempat jenasah Paus Fransiskus disemayamkan. Biarlah terpaku dalam hening sejenak.
Menatap sang gembala terbaring dalam sederhana dan kesahajaannya. Peti mati yang memang tak menyolok itu sepertinya jadi muara nyata dari 'kata, sikap, tampilan, style' seorang Fransiskus, Paus. Iya, seperti itu mau-maunya.
Artikel Terkait
Paus Fransiskus yang 'Asisi' dari Argentina
Kematian Paus Akibat Stroke dan Kolaps Kardiosirkulasi Ireversibel
Datangi Kedubes Vatikan, Menag Nasaruddin Umar Tulis Pesan Duka untuk Paus Fransiskus
Wasiat Paus Fransiskus
Kilas Balik, 10 Ucapan Paus Fransiskus yang Paling Menyentuh Hati
Terangilah Arwah Para Saudara Kami, Khsusunya Bapa Suci Paus Fransiskus, dengan Cahaya Abadi
Bagaimana dan Kapan Mengunjungi Jenazah Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus, Vatikan