• Sabtu, 18 April 2026

Paus Fransiskus dan Kesederhanaan... -Sekadar Satu Perenungan

- Rabu, 23 April 2025 | 20:54 WIB
Kons Beo SVD
Kons Beo SVD

Baca Juga: Presiden Prabowo Utus Jokowi, Thomas Djiwandono, Ignasius Jona dan Pigai Hadiri Pemakaman Paus

Tetapi.....

Sekiranya aku, misalkan, sebagai seorang misionaris, dipanggil untuk hidup dan melayani daerah-daerah sulit dan amat terbatas, namun 'sukacita injil tetap berkobar dalam hati dan aku setia penuh sukacita layani umat Allah, betapa aku miliki kemiskinan roh dan kesederhanaan Injili.

Aku tetap hadir sebagai misionaris 'inkarnatif' yang tak diterjang dan tak mudah cemar oleh arus hati penuh keluhan, dan terus mengeluh.

Memang, bisa saja ada sisi lain yang berseberangan. Seperti misal, aku dikagumi bisa bertahan dan dedikatif di padang gurun pelayanan bersama dan demi umat Allah.

Sayangnya, hatiku sebenarnya tetap mati-matian dambakan teritori 'berkelimpahan susu dan madu.'

Aku dikagumi karena 'sederhana dan miskin apa adanya.' Namun itu semua karena memang situasi setempat serba kurang dan terbatas yang tak menunjang harapan dan impianku.

Di sudut hati terdalam aku sebenarnya terantai oleh 'jarak dan suasana batin nan gelisah akan segala jaminan dan ketersediaan.'

Mari nyebrang ke alam lain.

Tetapi, walau dikepung oleh alam dan situasi serba wah, serba mudah, yang serba ditanyai dengan berondongan pertanyaan biasa, "Romo mau butuh apa? Ayo, bilang ya!"

Toh, sang Romo tetap punya filter untuk tetap bertahan pada 'seperlunya dan kesederhanaannya. Iya, bertahan pada apa yang memang dibutuhkan. Bertahan dalam spirit 'ini sudah cukup buatku.' Luar biasa kan?

Ternyata soal hidup sederhana - miskin atau pun sebaliknya hidup mewah berkelimpahan tidak sepantasnya berdasarkan situasi atau keadaan. Atau katakan seperti 'keterpaksaan' atau sebaliknya 'mumpungisme - oportunisme a la carpe diem.'

Artinya, terpaksa 'sederhana - miskin karena memang situasi memaksa. Atau kemudian 'mari berfoyah-foyah selagi ada kesempatan...'

Di hari kemarin, selasa 22 April 2025, syukurlah saya bisa sambangi domus Santa Marta, menuju Kapela tempat jenasah Paus Fransiskus disemayamkan. Biarlah terpaku dalam hening sejenak.

Menatap sang gembala terbaring dalam sederhana dan kesahajaannya. Peti mati yang memang tak menyolok itu sepertinya jadi muara nyata dari 'kata, sikap, tampilan, style' seorang Fransiskus, Paus. Iya, seperti itu mau-maunya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Maximus Ali Perajaka

Tags

Artikel Terkait

Terkini

'Ternyata Mesti Ada Batas Ketenaran Itu...'

Jumat, 17 April 2026 | 09:39 WIB

Sebuah Kata Penutup tentang Budaya Katolik

Rabu, 15 April 2026 | 21:42 WIB

'Malam Penuh Cahaya Iman'

Senin, 13 April 2026 | 06:02 WIB

Menghadirkan Wajah Allah Berbelas Kasih

Sabtu, 11 April 2026 | 19:37 WIB

Pengakuan Seorang 'Sumber Rahasia' dari Vatikan

Sabtu, 11 April 2026 | 08:00 WIB

'...tidak percaya' (Non crediderunt)

Sabtu, 11 April 2026 | 07:24 WIB

'Pakaian Kemuridan Tetaplah Kita Kenakan'

Kamis, 9 April 2026 | 18:13 WIB

'Menjadi Murid yang Diinjili

Kamis, 9 April 2026 | 18:01 WIB

Kiranya Mata Iman Kita Senantiasa Terjaga

Rabu, 8 April 2026 | 08:31 WIB

Sari Firman: Memotivasi Diri: Pertobatan Sejati

Selasa, 7 April 2026 | 11:47 WIB

Pesan Inspiratif: Maria Magdalena Menangis

Selasa, 7 April 2026 | 06:15 WIB

'Tuhanku Tak Terkalahkan...'

Selasa, 7 April 2026 | 06:10 WIB

Reuni Galilea

Senin, 6 April 2026 | 08:04 WIB
X