• Sabtu, 18 April 2026

Sebuah Kata Penutup tentang Budaya Katolik

- Rabu, 15 April 2026 | 21:42 WIB
Christopher Dawson
Christopher Dawson


Oleh Regis Martin

BAGI Christopher Dawson, ada satu titik balik—titik pertemuan di mana Allah menjadi manusia dan menyalakan imajinasi sejarah.

Tidak ada peristiwa lain dalam lautan sejarah yang dapat dibandingkan dengan kehadiran Allah di tengah kita, yang “mendirikan kemah-Nya” di dunia manusia.

Sejak didirikan oleh kaum Puritan hampir empat abad lalu, Universits Harvard tak pernah membayangkan akan membuka kursi resmi Studi Katolik Roma, apalagi mengundang sejarawan Katolik terkemuka dunia untuk mengisinya.

Namun zaman berubah. Pada tahun 1958, hal yang tak terbayangkan itu terjadi: Christopher Dawson datang ke Harvard untuk mengajar.

Ia hanya mengajukan satu syarat: seluruh perpustakaan pribadinya—lebih dari dua ribu buku—harus dibawa ke sana. Meski terkejut, Harvard menyetujuinya.

Kerja sama itu berlangsung hingga 1962, ketika Dawson, setelah mengalami dua kali pendarahan otak, kembali ke Inggris dalam kondisi lemah.

Delapan tahun kemudian ia wafat pada usia 81 tahun, meninggalkan reputasi sebagai sejarawan Katolik berbahasa Inggris terbesar abad ke-20.

Apa yang membuat Dawson begitu istimewa?

Tujuan seluruh kecendekiaannya adalah menunjukkan hubungan yang alamiah sekaligus mendasar antara agama dan budaya.

Dalam berbagai karya tulisnya, ia menegaskan satu visi besar: kehidupan manusia yang utuh hanya mungkin bila iman dan kehidupan publik terjalin secara organik.

Baca Juga: Paus Tinggalkan Aljazair, Lanjut Kunjungan ke Kamerun

Kunci memahami sejarah, menurut Dawson, adalah agama. Tanpa itu, masa lalu menjadi tak terbaca. Dan baginya, agama itu adalah Katolik.

Ia menulis bahwa dorongan religiuslah yang menyatukan masyarakat dan budaya.
Peradaban besar tidak melahirkan agama sebagai produk sampingan; sebaliknya, agama-agama besarlah yang menjadi fondasi peradaban.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Maximus Ali Perajaka

Tags

Artikel Terkait

Terkini

'Ternyata Mesti Ada Batas Ketenaran Itu...'

Jumat, 17 April 2026 | 09:39 WIB

Sebuah Kata Penutup tentang Budaya Katolik

Rabu, 15 April 2026 | 21:42 WIB

'Malam Penuh Cahaya Iman'

Senin, 13 April 2026 | 06:02 WIB

Menghadirkan Wajah Allah Berbelas Kasih

Sabtu, 11 April 2026 | 19:37 WIB

Pengakuan Seorang 'Sumber Rahasia' dari Vatikan

Sabtu, 11 April 2026 | 08:00 WIB

'...tidak percaya' (Non crediderunt)

Sabtu, 11 April 2026 | 07:24 WIB

'Pakaian Kemuridan Tetaplah Kita Kenakan'

Kamis, 9 April 2026 | 18:13 WIB

'Menjadi Murid yang Diinjili

Kamis, 9 April 2026 | 18:01 WIB

Kiranya Mata Iman Kita Senantiasa Terjaga

Rabu, 8 April 2026 | 08:31 WIB

Sari Firman: Memotivasi Diri: Pertobatan Sejati

Selasa, 7 April 2026 | 11:47 WIB

Pesan Inspiratif: Maria Magdalena Menangis

Selasa, 7 April 2026 | 06:15 WIB

'Tuhanku Tak Terkalahkan...'

Selasa, 7 April 2026 | 06:10 WIB

Reuni Galilea

Senin, 6 April 2026 | 08:04 WIB
X