Masyarakat yang kehilangan agama, cepat atau lambat akan kehilangan budayanya.
Bagi dunia Barat Kristen, pusat dari semuanya adalah Inkarnasi—Allah menjadi manusia.
Di situlah waktu dan keabadian bertemu, surga dan sejarah bersatu. Tanpa peristiwa ini, mustahil memahami arah sejarah manusia.
Dawson juga menyoroti momen penting ketika Santo Paulus menyeberang ke Eropa, membawa Injil ke dunia kafir. Peristiwa itu, yang dicatat oleh Santo Lukas, menjadi titik awal perubahan besar dalam sejarah Barat.
Teolog Joseph Ratzinger menyebut peristiwa ini sebagai awal “teologi sejarah”—sebuah langkah ilahi yang membawa Injil ke dunia Yunani.
Peristiwa itu mengubah dunia. Eropa yang dahulu tunduk pada kaisar, perlahan beralih kepada Kristus sebagai Raja. Bahkan masyarakat yang dahulu barbar menemukan kesatuan dalam iman Katolik.
Sejarawan Romawi Tacitus pernah mengatakan bahwa kekuatan sebuah kota bukan pada tentaranya atau hukumnya, melainkan pada kuil-kuilnya.
Namun dengan kelahiran Kristus, semua kuil lama runtuh, digantikan oleh satu kebenaran baru.
Kita semua adalah penerima rahmat dari peristiwa agung itu. Maka pertanyaannya: tidakkah kita perlu mengingatkan dunia bahwa budaya yang kokoh hanya dapat dibangun di atas dasar tersebut? *
Sumber: theimaginativeconservative.org. ***
Artikel Terkait
Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy Apresiasi Kegiatan KVKI
Kardinal Jose Tolentino de Mendonca Prefek Dikasteri Vatikan untuk Kebudayaan dan Pendidikan Pertama
Tokoh Muhammadiyah Syafiq A Mughni Berharap Kunjungan Paus Fransiskus Dapat Menumbuhkan ‘Mutual Trust’
Paus: Romo Gustavo Gutiérrez adalah ‘Tokoh Besar Gereja’
Kardinal Ameyu dari Sudan Selatan: 'Kami Telah Kehilangan Seorang Tokoh Hebat, Pembela Kami'
Dikasteri Kebudayaan dan Pendidikan: Dua Pilar Gereja dalam Budaya dan Pendidikan