Kons Beo, SVD
"Kita harus berjuang agar dapat hidup sederhana, namun dampaknya tak sederhana"
(Sang Bijak).
Sejak wafatnya, litania kebajikan Paus Fransiskus dikumandang. Kata-kata indah dan terukur dirangkai penuh eforia. Digelar bertubi-tubi di atas panggung akhir hidupnya di hari-hari ini.
Ini tentu tak sulit untuk dideteksi. Sebagai tokoh Gereja dan dunia, gerak-gerik Paus Fransiskus mudah diikuti.
Mudah pula dicari jejak digitalnya. Atau terekam pula dalam memori dari sekian banyak kata serta kesaksian dari style tampilan dan gerak hidupnya.
Mari kita sepakat bersama. Satu kata kunci yang sekian melambung di hari-hari perkabungan ini adalah kesederhanaannya, iya kesahajaan hidupnya. Selain, tentu, masih banyak kesaksian kata dan cara hidup lainnya.
Baca Juga: Bagaimana dan Kapan Mengunjungi Jenazah Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus, Vatikan
Sepantasnya 'kesederhanaan atau kesahajaan hidup' yang diajarkan atau ditampakkan Paus Fransiskus mesti dimaknai atau atau bahkan dikontemplasikan lebih jauh.
Benarkah seorang Paus, Pemimpin Tertinggi Gereja itu 'sederhana dan bersahaja dalam gaya hidupnya?'
Di dunia kini yang tak bebas dari asap tebal prasangka dan curiga, orang tidak begitu saja untuk mudah percaya.
Ketika, misalnya, kaum berjubah bicara tentang kemiskinan atau kesederhanaan, dunia (umat) sudah pada sinis penuh curiga. Atau 'terpaksa percaya.' Kaum berjubah-tudung itu tak susah. Hidup nyaman dan tergaransi.
Hidup Rohani terpaket dalam jam-jam doa yang teratur. Dilantunkan megahbmeriah pula; makan minum dan lain-lain siap tersaji on time.
Dan semuanya lalu bisa berdendang 'Indah rencanaMu, Tuhan. Di dalam hidupku...' Hidup tergaransi itu satu penyelenggaraan....