Oleh Regis Martin
BAGI Christopher Dawson, ada satu titik balik—titik pertemuan di mana Allah menjadi manusia dan menyalakan imajinasi sejarah.
Tidak ada peristiwa lain dalam lautan sejarah yang dapat dibandingkan dengan kehadiran Allah di tengah kita, yang “mendirikan kemah-Nya” di dunia manusia.
Sejak didirikan oleh kaum Puritan hampir empat abad lalu, Universits Harvard tak pernah membayangkan akan membuka kursi resmi Studi Katolik Roma, apalagi mengundang sejarawan Katolik terkemuka dunia untuk mengisinya.
Namun zaman berubah. Pada tahun 1958, hal yang tak terbayangkan itu terjadi: Christopher Dawson datang ke Harvard untuk mengajar.
Ia hanya mengajukan satu syarat: seluruh perpustakaan pribadinya—lebih dari dua ribu buku—harus dibawa ke sana. Meski terkejut, Harvard menyetujuinya.
Kerja sama itu berlangsung hingga 1962, ketika Dawson, setelah mengalami dua kali pendarahan otak, kembali ke Inggris dalam kondisi lemah.
Delapan tahun kemudian ia wafat pada usia 81 tahun, meninggalkan reputasi sebagai sejarawan Katolik berbahasa Inggris terbesar abad ke-20.
Apa yang membuat Dawson begitu istimewa?
Tujuan seluruh kecendekiaannya adalah menunjukkan hubungan yang alamiah sekaligus mendasar antara agama dan budaya.
Dalam berbagai karya tulisnya, ia menegaskan satu visi besar: kehidupan manusia yang utuh hanya mungkin bila iman dan kehidupan publik terjalin secara organik.
Baca Juga: Paus Tinggalkan Aljazair, Lanjut Kunjungan ke Kamerun
Kunci memahami sejarah, menurut Dawson, adalah agama. Tanpa itu, masa lalu menjadi tak terbaca. Dan baginya, agama itu adalah Katolik.
Ia menulis bahwa dorongan religiuslah yang menyatukan masyarakat dan budaya.
Peradaban besar tidak melahirkan agama sebagai produk sampingan; sebaliknya, agama-agama besarlah yang menjadi fondasi peradaban.