• Sabtu, 18 April 2026

Analisis Singkat Tentang Krisis Rusia-Ukraina

Abraham Runga Mali, Katolikku
- Kamis, 3 Maret 2022 | 14:09 WIB
 (Marsma TNI (Purn) Drs. Embu Agapitus, M.Si (Han) Praktisi Conflict Resolutions United Nations.)
(Marsma TNI (Purn) Drs. Embu Agapitus, M.Si (Han) Praktisi Conflict Resolutions United Nations.)

Oleh Marsma TNI (Purn) Drs. Embu Agapitus, M.Si (Han)*

Dalam analisis singkat ini, penulis menggunakan pendekatan FDTIR ( Facts-Drivers-Trends-Implications-Recommendations) sebagai berikut.

Fakta-Fakta

Pada tanggal 22 Februari 2022 hubungan diplomatik antara Rusia dengan Ukraina terputus, perang pada akhirnya tidak terhindarkan.

Baca Juga: Mark Wahlberg: Selamat Rabu Abu

Perang antara Rusia dan Ukraina sebenarnya telah terjadi sejak tahun 2014 lalu menyusul aneksasi dan pendudukan Krimea oleh Rusia.

Setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991 hubungan diplomatik antara Rusia dan Ukraina mengalami pasang surut (ups and down).

Pada awal tahun 1990an kebijakan Ukraina didominasi oleh aspirasi untuk meyakinkan dunia internasional tentang kedaulatan dan kemerdekaan Ukraina, menyusul kebijakan keseimbangan kerjasama (balanced cooperation) dengan Uni Eropa, Rusia dan kekuatan kekuatan lainnya.

Baca Juga: Renungan Kamis, 03 Maret 2022 (Sesudah Rabu Abu, Sta Katharina Drexel, Sta Kunigunde, St Martinus dr Kaisarea)

Hubungan Rusia dan Ukraina memburuk sejak terjadinya Revolution of Dignity (Revolusi Martabat) pada tahun 2014.

Revolusi ini berhasil mendongkel kepemimpinan Presiden terpilih Ukraina, Viktor Yanukovych karena penolakan Presiden Yanukovych menandatangani Persetujuan Asosiasi Politik dan Perdagangan Bebas antara Ukraina dengan Uni Eropa dan NATO ( North Atlantic Treaty Organization ) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara.

Kerusuhan pada tahun 2014 menewaskan lebih dari seratus ribu orang. Yanukovych pada akhirnya melarikan diri ke Moscow dan meminta perlindungan Rusia.

Baca Juga: Putin Menggunakan Gereja Ortodoks Rusia untuk Menumbuhkan ‘Kekaisarannya’

Pada tahun 2004 Czech Republic, Estonia, Hungary, Latvia, Lithuania, Poland, and Slovakia telah bergabung dengan NATO, menyusul Bulgaria dan Romania pada tahun 2007.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Abraham Runga Mali

Tags

Artikel Terkait

Terkini

'Ternyata Mesti Ada Batas Ketenaran Itu...'

Jumat, 17 April 2026 | 09:39 WIB

Sebuah Kata Penutup tentang Budaya Katolik

Rabu, 15 April 2026 | 21:42 WIB

'Malam Penuh Cahaya Iman'

Senin, 13 April 2026 | 06:02 WIB

Menghadirkan Wajah Allah Berbelas Kasih

Sabtu, 11 April 2026 | 19:37 WIB

Pengakuan Seorang 'Sumber Rahasia' dari Vatikan

Sabtu, 11 April 2026 | 08:00 WIB

'...tidak percaya' (Non crediderunt)

Sabtu, 11 April 2026 | 07:24 WIB

'Pakaian Kemuridan Tetaplah Kita Kenakan'

Kamis, 9 April 2026 | 18:13 WIB

'Menjadi Murid yang Diinjili

Kamis, 9 April 2026 | 18:01 WIB

Kiranya Mata Iman Kita Senantiasa Terjaga

Rabu, 8 April 2026 | 08:31 WIB

Sari Firman: Memotivasi Diri: Pertobatan Sejati

Selasa, 7 April 2026 | 11:47 WIB

Pesan Inspiratif: Maria Magdalena Menangis

Selasa, 7 April 2026 | 06:15 WIB

'Tuhanku Tak Terkalahkan...'

Selasa, 7 April 2026 | 06:10 WIB

Reuni Galilea

Senin, 6 April 2026 | 08:04 WIB
X