PENYELENGGARAAN Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Tingkat Nasional II tahun ini bertepatan dengan pencanangan tahun 2022 sebagai Tahun Toleransi.
Pagelaran dan lomba musik liturgi Katolik itu rencananya diadakan di kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 28 Oktober hingga 1 November 2022.
Sebagai sebuah aktivitas seni budaya masyarakat Katolik berskala nasional, Pesparani diharapkan dapat menggemakan pesan toleransi ke seluruh negeri.
Pesparani 2022
Pesparani tahun ini merupakan kegiatan keagamaan Katolik yang kedua setelah dilaksanakan untuk pertama kalinya di Ambon, Maluku pada 2018.
Kupang menjadi tuan rumah Pesparani berdasarkan usulan dalam Musyawarah Nasional di Ambon yang kemudian disetujui Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dalam Sidang Tahunan pada 9 November 2018 di Bandung.
Selaras dengan keputusan KWI, Menteri Agama mengeluarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 403 Tahun 2019 tentang Penetapan Kota Kupang sebagai Tempat Pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejani Tingkat Nasional II Tahun 2020.
Baca Juga: Renungan harian katolik, Rabu, 19 Oktober 2022: Kebiasaan Berdoa
Namun karena pandemi, pelaksanaan Pesparani itu ditunda ke tahun 2021. Mengingat pandemi belum juga berakhir, kegiatan Pesparani itu kemudian diundur lagi ke tahun 2022.
Animo masyarakat Katolik jelas sangat tinggi untuk berpartisipasi dalam Pesparani. Hal ini dibuktikan dalam Pesparani pertama di Ambon yang dihadiri oleh 12 ribu orang dari 34 provinsi di Indonesia (Tribun.com, 29/10/2018).
Semarak yang sama diperkirakan akan terulang tahun ini di Kupang. Bagi masyarakat Katolik, Pesparani memang menjadi sarana penting untuk membina dan meningkatkan iman.
Pesparani memberi ruang bagi setiap umat Katolik untuk menggali, mengembangkan, dan melestarikan kekayaan seni budaya gerejani beserta kandungan nilai-nilai spiritualitasnya dalam perpaduan dengan kekayaan seni budaya lokal, sebagai bagian dari kekayaan iman yang perlu terus diwarisi dan dikembangkan.
Kegiatan Pesparani diharapkan terus meningkatkan keimanan dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat dengan kesadaran baru akan pentingnya mewujudkan kehidupan bersama sebagai bentuk liturgi yang hidup bagi kemuliaan Allah dan sebagai pemenuhan tanggung jawab kerasulan Gereja dalam kehidupan bermasyarakat.
Artikel Terkait
Satu Tungku Tiga Batu, Cermin Toleransi Umat di Fakfak
Bukti Toleransi, Artis Krisdayanti Bangun Sebuah Gereja di Malang
Sekretaris Ditjen Bimas Aloma Sarumaha: Moderasi Beragama Jadi Gerakan Bersama pada Tahun Toleransi 2022
Kepada Sejumlah Konggres AS, Menag Bicara Toleransi Beragama di Indonesia
Hari Toleransi Internasional, Menag: 'Perbedaan adalah Fitrah'
Wagub Jateng, Gus Yasin Berharap Natal Jadi Momentum untuk Tingkatkan Toleransi
Kemenpora Dukung Gagasan dan Kegiatan Pemuda Katolik Membangun Indonesia Toleransi
Pemuda Katolik dan Ansor Jakarta Barat “Bumikan” Tahun Toleransi
Tahun Toleransi 2022; Pemuda Katolik Komcab Jakarta Pusat siap bersinergi dengan Kesbangpol
Hari Raya Nyepi, PHDI Tekankan Pentingnya Toleransi
Keuskupan Bogor Lakukan Safari Toleransi di Vihara Dhanagun