• Sabtu, 18 April 2026

OPINI: Pesparani dan Gema Toleransi dari Timur

- Selasa, 18 Oktober 2022 | 22:01 WIB

PENYELENGGARAAN Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Tingkat Nasional II tahun ini bertepatan dengan pencanangan tahun 2022 sebagai Tahun Toleransi.

Pagelaran dan lomba musik liturgi Katolik itu rencananya diadakan di kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 28 Oktober hingga 1 November 2022.

Sebagai sebuah aktivitas seni budaya masyarakat Katolik berskala nasional, Pesparani diharapkan dapat menggemakan pesan toleransi ke seluruh negeri.

Pesparani 2022

Pesparani tahun ini merupakan kegiatan keagamaan Katolik yang kedua setelah dilaksanakan untuk pertama kalinya di Ambon, Maluku pada 2018.

Kupang menjadi tuan rumah Pesparani berdasarkan usulan dalam Musyawarah Nasional di Ambon yang kemudian disetujui Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dalam Sidang Tahunan pada 9 November 2018 di Bandung.

Selaras dengan keputusan KWI, Menteri Agama mengeluarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 403 Tahun 2019 tentang Penetapan Kota Kupang sebagai Tempat Pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejani Tingkat Nasional II Tahun 2020.

Baca Juga: Renungan harian katolik, Rabu, 19 Oktober 2022: Kebiasaan Berdoa

Namun karena pandemi, pelaksanaan Pesparani itu ditunda ke tahun 2021. Mengingat pandemi belum juga berakhir, kegiatan Pesparani itu kemudian diundur lagi ke tahun 2022.

Animo masyarakat Katolik jelas sangat tinggi untuk berpartisipasi dalam Pesparani. Hal ini dibuktikan dalam Pesparani pertama di Ambon yang dihadiri oleh 12 ribu orang dari 34 provinsi di Indonesia (Tribun.com, 29/10/2018).

Semarak yang sama diperkirakan akan terulang tahun ini di Kupang. Bagi masyarakat Katolik, Pesparani memang menjadi sarana penting untuk membina dan meningkatkan iman.

Pesparani memberi ruang bagi setiap umat Katolik untuk menggali, mengembangkan, dan melestarikan kekayaan seni budaya gerejani beserta kandungan nilai-nilai spiritualitasnya dalam perpaduan dengan kekayaan seni budaya lokal, sebagai bagian dari kekayaan iman yang perlu terus diwarisi dan dikembangkan.

Baca Juga: Bacaan I, Rabu, 19 Oktober 2022: Peringatan Fakultatitf St Yohanes de Bezuf, St Isaac Joques, dan St Paulus

Kegiatan Pesparani diharapkan terus meningkatkan keimanan dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat dengan kesadaran baru akan pentingnya mewujudkan kehidupan bersama sebagai bentuk liturgi yang hidup bagi kemuliaan Allah dan sebagai pemenuhan tanggung jawab kerasulan Gereja dalam kehidupan bermasyarakat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Maximus Ali Perajaka

Tags

Artikel Terkait

Terkini

'Ternyata Mesti Ada Batas Ketenaran Itu...'

Jumat, 17 April 2026 | 09:39 WIB

Sebuah Kata Penutup tentang Budaya Katolik

Rabu, 15 April 2026 | 21:42 WIB

'Malam Penuh Cahaya Iman'

Senin, 13 April 2026 | 06:02 WIB

Menghadirkan Wajah Allah Berbelas Kasih

Sabtu, 11 April 2026 | 19:37 WIB

Pengakuan Seorang 'Sumber Rahasia' dari Vatikan

Sabtu, 11 April 2026 | 08:00 WIB

'...tidak percaya' (Non crediderunt)

Sabtu, 11 April 2026 | 07:24 WIB

'Pakaian Kemuridan Tetaplah Kita Kenakan'

Kamis, 9 April 2026 | 18:13 WIB

'Menjadi Murid yang Diinjili

Kamis, 9 April 2026 | 18:01 WIB

Kiranya Mata Iman Kita Senantiasa Terjaga

Rabu, 8 April 2026 | 08:31 WIB

Sari Firman: Memotivasi Diri: Pertobatan Sejati

Selasa, 7 April 2026 | 11:47 WIB

Pesan Inspiratif: Maria Magdalena Menangis

Selasa, 7 April 2026 | 06:15 WIB

'Tuhanku Tak Terkalahkan...'

Selasa, 7 April 2026 | 06:10 WIB

Reuni Galilea

Senin, 6 April 2026 | 08:04 WIB
X