(Pekan Biasa I - St Agathus-Paus ke 79, Beato Gregorius X-Paus ke 184, St Marsianus dr Konstantinopel, St Petrus Orseolo, St William de Bourges)
Bacaan I 1Samuel 1:1-8
Mazmur 116:12-13.14.17.18-19
Injil Markus 1:14-20
"Hana, mengapa engkau menangis?"
1Sam 1:8
(Anna, cur fles?)
Baca Juga: Bacaan Injil, 10 Januari 2022, Hari Biasa, (Mrk. 1:14-20)
SUNGGUH hancur luluh hati Hana. Tak punya anak di kala itu jadi sasaran hinaan. Hana itu adalah salah seorang istri dari Elkana. Istri yang lain bernama Penina. "Penina punya anak tetapi Hana tidak" (1Sam 1:2).
ADALAH kesempatan baik bagi Penina untuk nistakan Hana. Memiliki anak, bagi Penina, adalah 'rahmat dan modal kuat' untuk tinggikan dirinya. Hana jadi tak nyaman. "Penina menyakiti hatinya, sehingga Hana menangis dan tidak mau makan" (1Sam 1:7).
ELKANA, sang suami, coba menghibur. Kata-katanya sungguh menyentuh. Untuk mendapatkan kembali hati istrinya, Hana, yang tak berkeuntungan, "Hana, mengapa engkau menangis.... Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu daripada sepuluh anak laki-laki?" (1Sam 1:8).
Baca Juga: Bacaan I, 10 Januari 2022, Hari Biasa, (1 Sam. 1:1-8)
BERI penghargaan pada diri sendiri adalah kemuliaan. Bahwa sungguh Allah melihat hidup dan ziarah hidup kita. Bahwa diri dan hidup kita berharga di mata Tuhan.
TETAPI, kita pasti tak pernah boleh kibarkan penghargaan tinggi terhadap diri sendiri dengan merendahkan sesama. Penina pasti bersukacita di atas 'kemalangan' Hana. Keadaan itu dianggapnya sebagai kemenangan telak dan 'berkat' di hadapan Elkana.
HIDUP memang tak pernah luput dari aura penuh persaingan. Kita cenderung menghitung 'sisi untung dan positif' dalam diri sendiri. Dan pada waktu itu pula, kita lincah melitania 'sisi malang dan negatif' orang lain.
Baca Juga: Hari Ini, Paus Fransiskus Baptis 16 Bayi di Kapel Sistina
BILA hidup itu sendiri adalah 'berkat tanpa syarat' dari Tuhan, maka betapa mahamulia dan penuh kasihnya Tuhan pada setiap kita. Itulah yang patut disyukuri. Karena Kasih Tuhan sungguh luar biasa, baik bagi 'situasi Petina maupun bagi keadaan Hana.'
RIWAYAT setiap anak manusia pasti akan berujung pada Kasih Allah. Sebab itu siapapun tak pernah boleh 'merampas' apalagi 'mencuri' hak Tuhan untuk memastikan nasib sesamanya. Apalagi berjuang untuk runtuhkan kedaulatan Kasih Allah.
Artikel Terkait
Renungan Rabu, 29 Desember 2021: Hari Ke-5 Oktaf Natal-St Thomas Becket
Renungan, Kamis, 30 Desember 2021: Hari ke 6 Oktaf Natal - St Anysia, St Sabinus
Renungan, Senin, 3 Januari 2022: St Anterus, St Fulgensius
Renungan, Selasa, 4 Januari 2022 Sesudah Penampakan: Sta Dafrosa, Sta Elizabeth Ann Seton
BHF-1750 : Renungan dari Buku Harian St Faustina
Renungan, Rabu, 5 Januari 2022: St Gerlakus, St Simeon Stylites, Sta Syncletica, St Yohanes Neuman
Renungan Kamis, 06 Januari 2022: Sesudah penampakan Tuhan - St Andre Bessette, St Andreas Corsini, St Karolus
BHF-1307 : Renungan dari Buku Harian St Faustina
Renungan Sabtu, 08 Januari 2022: St Apolinarius Klaudius, St Julianus dr Beauvais, St Laurensius Giustiniani
BHF-1115 : Renungan dari Buku Harian St Faustina