DHAKA (Katolikku.com) - Caritas Bangladesh menawarkan layanan medis gratis untuk wanita hamil dari keluarga miskin di daerah pedesaan di negara Asia Selatan.
“Mulai April 2021 dan seterusnya, Caritas Bangladesh mengerjakan perawatan kesehatan untuk sekitar 1.000 wanita hamil dan remaja di dua distrik negara, Dinajpur dan Netrokona,” kata Dr Edward Pallab Rozario, manajer kesehatan Caritas Bangladesh.
Proyek yang bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan dan gizi di kalangan masyarakat kurang mampu ini didanai oleh Caritas Macau.
Rozario mengatakan perawatan medis di pedesaan dan daerah terpencil di negara itu hampir tidak ada karena wanita hamil jarang mengunjungi dokter.
Baca Juga: Istri Mantan Bintang Porno Berbagi Kisah
Kebanyakan wanita bahkan tidak tahu di mana mencari dokter. Selain itu, ada banyak prasangka di antara mereka terhadap mencari perawatan medis.
Mow Manda, seorang wanita hamil berusia 23 tahun dari Sagordighi dari daerah Durgapur di distrik Netrokona, mengatakan dia hamil enam bulan dan berkonsultasi dengan dokter untuk pertama kalinya sejak dia hamil.
“Satu-satunya rumah sakit berjarak sekitar lima kilometer dari sini. Dulu saya berpikir bahwa tidak perlu melakukan tes ke dokter selama kehamilan. Tetapi sekarang saya menyadari bahwa jika saya memeriksakan diri secara teratur, bayi saya dan saya akan sehat,” kata ibu dua anak yang beragama Katolik asli Garo itu kepada UCA News.
Caritas Bangladesh berencana untuk memperluas program kesadaran kesehatannya bagi para wanita di daerah-daerah terpencil Bangladesh, kata Rozario.
Baca Juga: Paus Fransiskus Memberikan Refleksi Pribadi tentang Imamatnya yang Sudah lebih dari 52 Tahun
Caritas Bangladesh memberikan kesadaran dan layanan kesehatan kepada sekitar 30.000 wanita hamil, remaja dan pasien HIV-AIDS melalui selusin proyek kesehatan.
Menurut departemen kesehatan pemerintah, hanya 12 persen wanita yang dapat menerima nasihat dan perawatan kesehatan pada tahun 2000. Namun saat ini sekitar 50 persen wanita mendapatkan bantuan selama kehamilan.
“Mengurangi kematian ibu adalah pencapaian besar, tetapi sangat mungkin untuk menguranginya lebih jauh. Tidaklah diinginkan bagi seorang ibu untuk meninggal saat melahirkan anak atau tidak memiliki akses ke perawatan kesehatan yang layak selama kehamilan,” kata Mohammad Sharif, direktur program kesehatan ibu dan anak di departemen keluarga berencana, kepada UCA News.
Menurut data dari departemen kesehatan, 165 dari 100.000 ibu meninggal saat melahirkan di Bangladesh sementara 21 dari setiap 1.000 bayi yang baru lahir tidak bertahan hidup. ***
Artikel Terkait
Yayasan Caritas Masih Terus Salurkan Bantuan kepada Korban Topan Seroja di Sumba
Peziarah dari Berbagai Agama di Bangladesh Terima Kasih kepada Bunda Maria karena Selamat dari Pandemi
Pertemuan Tahunan Jaringan Caritas Indonesia: Merespon Secara Kolektif
Ketua Badan Pengurus Caritas Indonesia Mgr. Aloysius : Caritas Harus Promosikan Paroki Tangguh Bencana
Umat Katolik tidak Sampai Setengah Persen, Bangladesh Pernah Catat Rekor Jumlah Imam yang Ditahbiskan
Yayasan Caritas Gelar 'Festival Disabilitas Ende Bisa', 1000 Paserta Ambil Bagian
Kebakaran Kapal Feri di Bangladesh Selatan, 39 Orang Tewas
Dua Gadis Katolik Diperkosa 10 Pria di Bangladesh, Keluarga Tuntut Keadilan
Orang Bangladesh dari Semua Agama Sambut Sekolah yang Dikelola Para Bruder Salib Suci