LA HABANA (Katolikku.com) - Di lantai dua pastoran Paroki Santa Lucia, La Habana, tempat di mana saya menetap untuk sementara waktu menunggu urusan dokumen Carnet de Identidad (kartu identitas) yang masih dalam proses, saya biasanya duduk di salah satu sudut jendela memandang keluar sambil menyeruput secangkir kopi atau menghisap mate, minuman sejenis teh khas dari Argentina, ditemani list lagu Jesse y Joy bergenre pop rock yang cukup populer di Mexico hingga saat ini.
Ritual duduk-duduk itu saya lakukan beberapa menit di pagi hari setelah sarapan, siang hari kalau sempat, dan sore hari sebelum mandi jika tidak ada kegiatan penting lainnya.
Kalau lagi ingin, saya mengambil waktu sedikit di malam hari ketika bintang-bintang mulai berhamburan di langit Cuba yang mulai gelap.
Baca Juga: Gerakan Rosario Pria Irlandia Terus Berkembang
Kebetulan pastoran terletak di samping sebuah jalan beraspal yang sudah sedikit tak terawat. Jalan tersebut selalu ramai oleh aktivitas manusia dari pagi hingga malam.
Ada yang berjalan kaki menenteng plastik atau keranjang berisi sesuatu, ada pula yang melintas dengan mobil antik keluaran tahun 60 atau 70-an yang dimodifisaki seadanya, yang lain dengan motor bertenaga listrik tanpa suara seperti hantu yang datang tiba-tiba dari belakang, yang lainnya lagi para penjaja dengan gerobak sederhana meneriakkan suara khasnya dengan keras, dan juga anak-anak kecil yang mondar mandir, entah apa yang mereka cari.
Itu hanya beberapa lakon dari beribu-ribu lainnya yang datang silih berganti setiap harinya.
Sejujurnya pemandangan yang demikian tidak pernah membosankan sebab sebagian besar dari para pengguna jalan itu tidak selalu orang dan-atau kendaraan yang sama. Mereka juga muncul dengan gaya dan gestur yang berbeda-beda.
Karena itu, jalan tersebut terlihat seperti sebuah panggung di mana adegan tentang kehidupan dengan berbagai tetek bengeknya ditampilkan sebegitu variatifnya.
Namun dari sekian banyak pemandangan menarik tersebut, ada sebuah pemandangan yang cukup menyita perhatian.
Di sebelah jalan, berjejer beberapa rumah yang saling menempel satu sama lain. Salah satu dari rumah-rumah tersebut, yang berada persis di depan jendela pastoran, memiliki sebuah beranda beratapkan seng dengan sejumlah kursi terbuat dari besi yang berderet rapi, dan di sebelahnya terdapat sebuah piscina (kolam renang) mini dari fiber berukuran sekitar 4×4 meter dengan kedalaman selutut orang dewasa. Warnanya hijau.
Baca Juga: Penyanyi Pop J Balvin Befoto Selifie dengan Paus Fransiskus
Piscina itu sejatinya bukanlah sebuah kolam renang “normal” yang biasa kita tahu dan lihat di mana-mana. Ia lebih seperti sebuah bak besar yang diletakkan di atas tanah untuk menampung air ketika hujan turun. Sangat sederhana.
Artikel Terkait
Padre Amans Laka SVD dan Sepenggal Kisahnya di Tanah Misi Kuba
Gereja Katolik Slovakia Galang Dana buat Umat di Kuba
Misi Pastor Amans Laka SVD, dari Puerto Esperanza Argentina hingga Havana, Kuba
Para Imam Katolik Kuba Desak Pemerintah untuk Tidak Mengitimidasi Pendemo pada 15 November Ini
Konferensi Waligereja Katolik Kuba juga Dukung Hak Berekspresi Warga Sipil
Pawai Doa Warga Katolik Kuba-Amerika di Miami Minggu Kemarin, Dukung Aksi di Kuba, Hari Ini
Kongregasi Suster Salesian Rayakan Ulang Tahun ke-100 Kedatangannya di Kuba
Paus Berdoa untuk Para Korban Kebakaran Hebat di Depot Bahan Bakar Kuba