• Sabtu, 18 April 2026

Sejumput Kisah Padre Benito di Paroki Santa Lucia, La Habana, Kuba

- Minggu, 4 September 2022 | 11:46 WIB
Padre Benito (paling kanan) bersama dua staf KBRI Kuba
Padre Benito (paling kanan) bersama dua staf KBRI Kuba

LA HABANA (Katolikku.com) - Di lantai dua pastoran Paroki Santa Lucia, La Habana, tempat di mana saya menetap untuk sementara waktu menunggu urusan dokumen Carnet de Identidad (kartu identitas) yang masih dalam proses, saya biasanya duduk di salah satu sudut jendela memandang keluar sambil menyeruput secangkir kopi atau menghisap mate, minuman sejenis teh khas dari Argentina, ditemani list lagu Jesse y Joy bergenre pop rock yang cukup populer di Mexico hingga saat ini.

Ritual duduk-duduk itu saya lakukan beberapa menit di pagi hari setelah sarapan, siang hari kalau sempat, dan sore hari sebelum mandi jika tidak ada kegiatan penting lainnya.

Kalau lagi ingin, saya mengambil waktu sedikit di malam hari ketika bintang-bintang mulai berhamburan di langit Cuba yang mulai gelap.

Baca Juga: Gerakan Rosario Pria Irlandia Terus Berkembang

Kebetulan pastoran terletak di samping sebuah jalan beraspal yang sudah sedikit tak terawat. Jalan tersebut selalu ramai oleh aktivitas manusia dari pagi hingga malam.

Ada yang berjalan kaki menenteng plastik atau keranjang berisi sesuatu, ada pula yang melintas dengan mobil antik keluaran tahun 60 atau 70-an yang dimodifisaki seadanya, yang lain dengan motor bertenaga listrik tanpa suara seperti hantu yang datang tiba-tiba dari belakang, yang lainnya lagi para penjaja dengan gerobak sederhana meneriakkan suara khasnya dengan keras, dan juga anak-anak kecil yang mondar mandir, entah apa yang mereka cari.

Senior sekaligus rekan kerja Padre Benito, Padre Amans Laka SVD (tengah) bersama staf KBRI Kuba
Senior sekaligus rekan kerja Padre Benito, Padre Amans Laka SVD (tengah) bersama staf KBRI Kuba

Itu hanya beberapa lakon dari beribu-ribu lainnya yang datang silih berganti setiap harinya. 

Sejujurnya pemandangan yang demikian tidak pernah membosankan sebab sebagian besar dari para pengguna jalan itu tidak selalu orang dan-atau kendaraan yang sama. Mereka juga muncul dengan gaya dan gestur yang berbeda-beda.

Karena itu, jalan tersebut terlihat seperti sebuah panggung di mana adegan tentang kehidupan dengan berbagai tetek bengeknya ditampilkan sebegitu variatifnya.

Namun dari sekian banyak pemandangan menarik tersebut, ada sebuah pemandangan yang cukup menyita perhatian.

Di sebelah jalan, berjejer beberapa rumah yang saling menempel satu sama lain. Salah satu dari rumah-rumah tersebut, yang berada persis di depan jendela pastoran, memiliki sebuah beranda beratapkan seng dengan sejumlah kursi terbuat dari besi yang berderet rapi, dan di sebelahnya terdapat sebuah piscina (kolam renang) mini dari fiber berukuran sekitar 4×4 meter dengan kedalaman selutut orang dewasa. Warnanya hijau.

Baca Juga: Penyanyi Pop J Balvin Befoto Selifie dengan Paus Fransiskus

Piscina itu sejatinya bukanlah sebuah kolam renang “normal” yang biasa kita tahu dan lihat di mana-mana. Ia lebih seperti sebuah bak besar yang diletakkan di atas tanah untuk menampung air ketika hujan turun. Sangat sederhana.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Maximus Ali Perajaka

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Wilayah Misi Gereja Katolik Terus Bertambah

Sabtu, 24 Januari 2026 | 13:37 WIB
X