HAVANA (Katolikku.com) - Sekelompok imam Katolik Kuba menandatangani surat yang ditujukan kepada pihak berwenang Kuba, Rabu 10 november 2021 lalu, mendesak mereka untuk tidak menggunakan kekerasan terhadap pawai yang memprotes pemerintah komunis negeri itu yang direncanakan digelar pada Senin, 15 November 2021.
“Kami tidak ingin melihat polisi memukuli dan menganiaya rakyat mereka sendiri lagi. Kami tidak ingin darah tumpah lagi, kami tidak ingin mendengar suara tembakan lagi. Tidak, karena itu bukan cara yang akan membawa kita ke Kuba yang kita butuhkan dan kita semua inginkan,” kata para imam itu dalam surat mereka pada 10 November yang diunggah di Facebook.
“Kami yang menandatangani surat ini adalah orang Kuba, para imam Katolik yang dipanggil untuk menjadi gembala rakyat kami, kami hanya menginginkan kebaikan negara kami, kami menginginkan Kuba di mana keadilan, kebebasan dan perdamaian berkuasa,” kata mereka.
“Meskipun benar bahwa tidak ada orang Kuba yang harus mengangkat tangannya melawan rekan senegaranya hanya karena pemikiran yang berbeda, apalagi polisi yang dengan panggilan memiliki tugas untuk memberi contoh kewarganegaraan yang baik kepada seluruh penduduk, yang ada untuk menjaga warga negara dan melindungi ketertiban umum.”
Baca Juga: Kepada Sejumlah Konggres AS, Menag Bicara Toleransi Beragama di Indonesia
“Jangan pukul para pengunjuk rasa karena Anda dan mereka hidup di tengah begitu banyak kelangkaan dan kesengsaraan. Jangan memfitnah mereka sebagai tentara bayaran, karena Anda dan mereka memiliki ayah, ibu, teman, kenalan, yang memberikan segalanya untuk cita-cita dan yang hari ini tidak memiliki apa-apa. Jangan hentikan mereka untuk berbaris dengan damai karena Anda dan mereka ingin hidup tanpa takut mengungkapkan pikiran Anda, tanpa takut diawasi,” tulis mereka.
Sebuah “Pawai Sipil untuk Perubahan” telah diumumkan pada 15 November, sebuah demonstrasi damai di beberapa kota di Kuba yang berusaha untuk mengulangi protes yang terjadi di seluruh Kuba pada 11-12 Juli 2021 lalu.
Pawai adalah gerakan akar rumput yang tidak dipromosikan oleh kelompok atau organisasi tertentu di pulau itu.
Baca Juga: Aksi Solidaritas Keuskupan Agung Pontianak Bersama Kodam XII Tanjungpura untuk Korban Banjir
Para imam yang menandatangani surat itu, beberapa di antaranya berada di Kuba, adalah Alberto Martín Sánchez, Castor lvarez Devesa, Alberto Reyes Pías, Rolando Montes de Oca Valero, Lester Zayas Díaz, Jorge Luis Pérez Soto, Jorge Luis Gil Orta, Fernando Gálvez Luis , Kenny Fernández Delgado, Ramón Rivas, Danny Roque Gavilla, José Conrado Rodríguez Alegre dan Deacon Maybgl Gómez Hernández.
Uskup Manuel Aurelio Cruz, seorang Uskup Pembantu Newark, juga menandatangani surat itu. Berasal dari Kuba, Uskup Cruz melarikan diri dari negara itu ke AS sebagai seorang anak dengan orang tuanya pada tahun 1966.
Pemerintahan negara komunis di Kuba didirikan segera setelah berakhirnya Revolusi Kuba pada tahun 1959, yang menggulingkan penguasa otoriter Fulgencio Batista. ***
Artikel Terkait
Seorang Imam Katolik Nigeria yang Diculik di Kediamannya Telah Dibebaskan
Wow, Tiga Bersaudara Ditahbiskan Jadi Imam Katolik pada Hari yang Sama
Tiga Mahasiswa Calon Imam Katolik Diculik di Nigeria
Seorang Imam Katolik Diancam akan Dibunuh Militer Myanmar
Jumlah Imam Katolik Pendatang di Italia Terus Meningkat
Studi: Imam Katolik Muda Amerika Serikat Lebih Konservatif dari Angkatan Tua
194 Imam Katolik Buka Suara, Minta Dunia Internasional Dukung Perdamaian di Tanah Papua
Biopik Akan Dibuat tentang Imam Katolik Pertama Asal Korea