Sedikit pun, keduanya mengaku, tidak ada niatan untuk melecehkan atau tidak menghargai budaya Indonesia terutama budaya Jawa.
“Kami sangat terima kasih juga karena telah diingatkan kembali untuk lebih memahami budaya tersebut,” tambahnya.
“Kami berjanji tidak akan mengulangi dan akan menjadi pembelajaran kami kedepannya,” lanjutnya.
Meminta maaf kepada gereja Katolik
Nena dan Valen, juga meminta maaf kepada Keuskupan Agung Jakarta dan seluruh umat katolik.
“Kami memohon maaf juga kepada Keuskupan Agung Jakarta dan seluruh umat Katolik untuk berita pemberkatan hewan peliharaan yang disalahartikan oleh masyarakat,” kilahnya.
Baca Juga: Kardinal Zuppi Bertemu dengan Presiden AS Biden, Bahas tentang Penderitaan di Ukraina
Nena dan Valen berdalih bahwa anjing Jojo dan Lena tidak menikah, tapi hanya pemberkatan hewan biasa dilakukan gereja Katolik.
“Sebenarnya yang terjadi hanyalah pet blessing atau pemberkatan hewan biasa sebagaimana dilakukan oleh gereja di tanggal 4 Oktober.Yaitu pada peringatan tentang St Fransiskus dari Asisi.
Kedua wanita ini mengaku tidak ada niatan untuk melecehkan agama Katolik atau pun budaya Indonesia terutama budaya Jawa.
“Kami sangat menyesal dan memohon maaf,” kata mereka.
Disomasi
Sebagaimana diberitakan, acara pernikahan anjing tersebut disomasi paguyuban penatacara Yogyakarta.
Ki Abeje Janoko, Ketua Persatuan Pembiwara Republik Indonesia atau PEPARI, sekaligus Ketua Paguyuban Panatacara Yogyakarta atau PPY menyampaikan somasinya. Video diunggah akun TikTok @Abeje Janoko.
"Adat Jawa yang adiluhung kok diaplikasikan pada binatang? Oleh karena itu, atas nama organisasi yang berbandan hukum, kami mewakili kawan-kawan semuanya melakukan protes atau pun somasi,” tegasnya.
Artikel Terkait
Krisis Gereja Jerman: No Pay, No Pray – No Tax, No Blessing
Paus Fransiskus Kritik Penyayang Binatang yang Kadang Abaikan Anak-Anak