Di masa awal kuliah, memang ada program mahasiswa UIN Alauddin harus menghapal juz 30 Al-Qur’an. Namun, tugas tersebut tidak berlaku untuk mahasiswi Katolik seperti Katlyn.
Selain itu, di kelas ternyata juga ada pembelajaran seputar Al-Qur’an dan Hadits.
Beruntungnya, dosen pengampunya memahami bahwa Katlyn adalah mahasiswi Katolik. Sehingga, si dosen mencoba membahasakan semudah mungkin agar Katlyn bisa menangkap maksudnya.
“Kalau tugas-tugas yang diberikan, saya bisa mengerjakannya karena kadang diberikan dalam bentuk kelompok,” tuturnya.
Sementara jika ada tugas individu yang berkaitan dengan ke-Islaman, beruntungnya Katlyn memiliki teman-teman yang dengan senang hati memberinya bantuan.
“Jadi kalau soal tugas, puji Tuhan selalu aman,” katanya.
Teman dan dosen intoleran bikin kesal
Sebagai mahasiswi Katolik yang “tersesat” di kampus Islam, Katlyn mengaku tidak jarang berhadapan dengan orang-orang yang menurutnya tak memiliki jiwa toleransi tinggi. Baik dari kalangan sesama mahasiswa bahkan dari kalangan dosen sekalipun.
Di kalangan segelintir mahasiswa UIN Alauddin intoleran itu, keyakinan Katlyn sebagai mahasiswa Katolik biasanya menjadi bahan bercandaan.
Sementara dari oknum dosen, ada yang mempertanyakan kebenaran iman Katolik yang Katlyn anut. Sehingga, kesannya merendahkan.
“Saya kadang merasa sakit hati. Tapi kembali lagi bahwa kita tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain katakan dan lakukan kepada kita,” tutur Katlyn.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Katlyn mulai terbiasa menjadi mahasiswa Katolik yang menimba ilmu di kampus Islam.
(Sumber: Mojok.co, Penulis: Muchamad Aly Reza). ***