Karena, menurut Katlyn, keluarganya merasa khawatir jika dengan masuk ke kampus Islam, iman Katlyn sebagai seorang mahasiswi Katolik akan terganggu.
“Persoalan agama ya agama, kalau kuliah ya kuliah,” demikian penjelasan Katlyn pada keluarga besarnya.
Atas pengertian-pengertian tersebut, pihak keluarga pun akhirnya memberi restu Katlyn untuk menjadi mahasiswi Katolik di UIN Alauddin Makassar.
Mahasiswi Katolik diajak salat hingga pakai hijab
Dari pihak akademik fakultasnya, banyak yang tahu kalau Katlyn memang adalah mahasiswi Katolik. Akan tetapi tidak dengan teman-teman seangkatannya.
Banyak di antara teman-teman seangkatannya yang mengira kalau Katlyn adalah seorang muslimah, sebagaimana lazimnya mahasiswi UIN Alauddin Makassar.
Alhasil, sering kali Katlyn mendapat ajakan untuk mengerjakan hal-hal bersifat ke-Islaman. Seperti misalnya ajakan untuk salat.
Awalnya, setiap kali ada yang mengajaknya salat, Katlyn hanya menjawab “tidak salat”. Dari situ teman-temannya menyimpulkan kalau ia sedang haid.
Karena di kalangan wanita muslim kalau sudah bilang “tidak salat”, maka maksudnya adalah demikian.
“Lalu ketika jam makan siang, saya membuat tanda salib. Mereka terkejut,” ungkap Katlyn. Dari situ pula ia mulai menjelaskan kalau ia adalah mahasiswi Katolik.
Sontak saja temannya terheran-heran, bagaimana bisa mahasiswi Katolik mau kuliah di kampus Islam? Kalau salah kampus atau salah jurusan kok jauh banget.
Tak berhenti di situ, Katlyn juga pernah mengalami momen langka yaitu mengenakan hijab untuk menghormati mahasiswi-mahasiswi lain.
Suatu kali di awal masa kuliahnya, Katlyn dipanggil untuk menghadap Kepala Jurusan Ilmu Perpustakaan. Ketua Jurusan malah kaget dan menyebut kalau sebenarnya Katlyn tidak harus mengenakan hijab sebagaimaa mahasiswi-mahasiswi UIN Alauddin Makassar yang lain.
“Karena belum ada aturan terkait pemakaian hijab oleh mahasiswi non Islam,” jelasnya.
“Karena selama UIN berdiri katanya belum ada mahasiswi non Islam yang masuk di UIN, kecuali mahasiswa,” sambungnya.
Berhadapan dengan tugas hapalan Al-Qur’an di UIN Alauddin
Meski pada dasarnya jurusannya tak spesifik mengarah pada ke-Islaman, tapi sebagai kampus Islam tentu UIN Alauddin Makassar tak lepas dari aspek-aspek ke-Islaman dalam materi ajarnya.
Artikel Terkait
OPINI: Pesparani dan Gema Toleransi dari Timur
Pesparani II Gaungkan Gema Toleransi
Nuansa Toleransi di Gua Maria Sawer Rahmat, Desa Cisantana, Cigugur, Kuningan, Jawa Barat
Sejarah Gereja Katedral Makassar, Berusia 125 Tahun hingga Jadi Simbol Toleransi
Promosikan Keindahan Toleransi, Bhabinkamtibmas Olilit Raya I Gelar Bakti Sosial Bersama di Masjid dan Gereja
Gereja Katolik Palasari: Menyelami Keindahan Wisata Rohani di Bali yang Penuh Toleransi
Ditantang soal Toleransi, Anies Buktikan Rekam Jejak Selesaikan IMB Gereja yang Puluhan Tahun Tak Dapat Izin
Jejak Toleransi di Serambi Mekah: Gereja Katolik Hati Kudus Banda Aceh
Pemuda Katolik Morotai Jaga Keamanan Salat Jumat, Wujud Toleransi dan Kerukunan Antar Umat Beragama
Talkshow "Gereja Sinodal Dalam Sukacita Keberagaman" Mendorong Umat Katolik Terlibat dalam Toleransi dan Kerukunan Agama