• Sabtu, 18 April 2026

Dirjen Bimas Katolik Ajak Lulusan STIPAS Kupang, Hidupi Nilai Kearifan Lokal  

- Rabu, 15 Desember 2021 | 13:25 WIB
Dirjen Bimas Katolik Yohanes Bayu Samodro (bimaskatolik.kemenag.go.id)
Dirjen Bimas Katolik Yohanes Bayu Samodro (bimaskatolik.kemenag.go.id)

 

KUPANG (Katolikku.com) - Dirjen Bimas Katolik Yohanes Bayu Samodro mengajak lulusan STIPAS Keuskupan Agung Kupang agar terlibat dalam kampanye global meningkatkan kesadaran publik bersikap antikorupsi.

Dirjen Bayu menyampaikan ajakan tersebut ketika menyampaikan kata sambutan dalam acara Wisuda Sarjana Pendidikan, Angkatan XIX Tahun Akademik 2020/2021 STIPAS Keuskupan Agung Kupang pada Kamis (09/12) pekan lalu.

Baca Juga: Paus Mengirim Surat kepada Raja Bahrain, Apa Isinya?

Turut hadir dalam acara wisuda yang digelar dengan penerapan protokol kesehatan Covid-19 yang ketat tersebut di antaranya, Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang, Pr, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat, Kakanwil Kementerian Agama Provinsi NTT Reginaldus S.S. Serang, Kakanmenag Kota Kupang Yakobus Beda Kleden, serta para pejabat Eselon III lingkup Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT.

Prosesi wisuda STIPAS Keuskupan Agung Kupang , Kamis, 09 Desember 2021.
Prosesi wisuda STIPAS Keuskupan Agung Kupang , Kamis, 09 Desember 2021. (bimaskatolik.kemenag.go.id)

Di hadapan 58 wisudawan Dirjen Bayu mengajak para wisudawan  agar terlibat dalam kampanye global untuk menghidup nilai-nilai kerafilan lokal dan meningkatkan kesadaran publik bersikap antikorupsi.

 “Kebetulan, kemarin (Rabu, 8/12, red)  adalah ari Antikorupsi Sedunia atau International Anti-Corruption Day.

Mahasiswa mempunyai peran dalam upaya melawan tindakan korupsi. Semua harus terlibat dalam membangun sikap antikorupsi,” ucap Dirjen sebagaimana ditulis situs bimaskatolik.kemenag.go.id, Selasa, 14 Desember 2021.

Baca Juga: Pemuda Katolik Bantu Korban Erupsi Gunung Semeru

Dirjen Bayu kemudian mengajak para wisudawan/wati untuk menghidupi nilai-nilai kearifan lokal yang mendukung dan memperkuat nilai-nilai moderasi beragama untuk menjaga kerukunan.

“Nilai-nilai kearifan lokal seperti Nusi (gotong royong), Butukila (ikat dan pegang rasa persaudaraan), Suki Toka Apa (saling mendukung dan menolong) dan Muki Nena (rasa saling memiliki dan mempunyai) hendaknya terus dijaga agar falsafah dan nilai-nilai kearifan lokal tetap hidup dan dihidupi dari generasi ke generasi sehingga terciptanya kebaikan bersama (bonum commune),” ujarnya.

Dirjen juga berpesan agar ilmu yang sudah diperoleh di kampus ini, dilanjutkan dengan pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat.

Baca Juga: Begini Panduan Lengkap Kemenag Perihal Perayaan Natal dan Tahun Baru

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Maximus Ali Perajaka

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pemuda Katolik Banyuwangi Siap Perkuat Toleransi

Minggu, 12 April 2026 | 16:58 WIB

Buku Biografi Paus Leo XIV Terbit 28 April Ini

Sabtu, 11 April 2026 | 08:16 WIB
X