• Sabtu, 18 April 2026

Renungan Katolik, Jumat, 26 Agustus 2022 ( St Elizabet Bichier, St Mariam Baoardy, St Teresa dr Yesus)

- Sabtu, 27 Agustus 2022 | 05:31 WIB
P Kons Beo SVD
P Kons Beo SVD

Bacaan I 1Korintus 1:17-25
Mazmur Tanggapan Mzm 33:1-2.4-5.10ab.11
Injil Matius 25:1-13

"Tidak, jangan-jangan nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kalian..."
Mat 25:9
(Ne forte non sufficiat nobis, et vobis)

PELITA tanpa minyak yang cukup? Ini jelas jadi masalah yang serius. Sebab, yang terpenting adalah minyak itu. Itulah bahan bakar agar sedapatnya pelita itu tetap bertahan dalam nyala.

PENGANTIN pasti akan datang, dan hari segera larut malam. Alam gelap tentu tak terhindarkan. Sebab itu 'pelita dan bahan bakarnya, minyak, mesti dipersiapkan. Agar siapapun tak tetap tinggal dalam kegelapan!

Baca Juga: Bacaan I Hari Jumat 26 Agustus 2022 (1Korintus 1:17-25)

KITA tidak sekedar berjaga dan terus berjaga dalam kepasifan. Tetapi, apakah yang mesti dipersiapkan agar bisa bertahan kokoh dalam penantian?

Kelima gadis bijak adalah gambaran kearifan dalam menantikan kedatangan mempelai.

GADIS-GADIS yang tak bijak? Entahlah apa yang mereka persiapkan? Tak adakah kebijakan hati dan pikiran demi apapun yang harus dipersiapkan? Tak ada minyak yang cukup telah jadi alasan berat untuk gagal menyongsong mempelai. Dan gagal pula dalam sukacita bersama. Dalam perjamuan nikah.

TINGGALKAN kesementaraan hidup ini bagi setiap kita adalah kepastian! Bahwa di suatu saat, mempelai akan datang, itu juga adalah kepastian. Setiap kita punya 'kebebasan' untuk menjadi 'bijaksana' atau terlena dalam 'kebodohan' demi saat kepastian itu.

MINYAK 'iman-harapan-kasih' sungguh menentukan pula cahaya 'pelita keselamatan.' Kita harus berjuang untuk menjadi manusia 'berpelita bernyala dengan kekuatan minyak iman, harapan dan kasih.' Agar kita terhitung dalam perjamuan nikah (cf Mat 25:10).

Baca Juga: Bacaan Injil Hari Jumat 26 Agustus 2022 (Matius 25:1-13)

SEBAB itulah, marilah menjadi bijak bagi diri sendiri. Hidup toh hanya sementara. Ada waktunya kita akan berlalu darinya. Tetapi, apakah kita mesti terserap oleh kepekatan kegelapan malam? Apakah kita hanya sebatas kelompok orang yang hanya berseru 'Tuan, bukakanlah kami pintu'? Dan ternyata tiada hasil, dan harus jadi 'kaum luaran' dari ruang perjamuan nikah?

SEBAB itu pula, janganlah sebatas kagumi indahnya bentuk pelita. Tetapi perhatikanlah terutama 'bahan dasarnya' agar ia tetap terjaga dan bertahan dalam nyala. Sebab, terkadang ada banyak 'pelita indah dan gagah terlihat luaran.' Namun sayangnya 'ia tanpa cukup minyak demi kobaran api, nyala dan semangat yang harus terus bertahan.'

SEMOGA pelita dan lilin iman yang telah bernyala sejak saat pembaptisan, akan tetap bernyala dan terus bernyala. Hingga Tuhan datang dalam kemuliaan dan kebesaran kuasa KerajaanNya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Maximus Ali Perajaka

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Renungan 108: Suara Gereja

Sabtu, 18 April 2026 | 14:04 WIB

Menjelajahi Kegelapan Ketakutan

Sabtu, 18 April 2026 | 13:49 WIB

Bacaan Liturgis, Sabtu Pekan kedua Paskah

Jumat, 17 April 2026 | 19:30 WIB

Ratu Surga, Bersukacitalah, Alleluya

Jumat, 17 April 2026 | 14:54 WIB

Putera Allah yang Hidup, Berkatilah UmatMu

Jumat, 17 April 2026 | 14:51 WIB

Rahmat Ilahi Tak Pernah Gagal

Jumat, 17 April 2026 | 11:18 WIB

Tuhan, Perhatikanlah HambaMu.

Kamis, 16 April 2026 | 13:30 WIB

Renungan 106: Tidur dalam Kristus

Kamis, 16 April 2026 | 10:08 WIB

Keyakinan yang Mengubah

Kamis, 16 April 2026 | 10:01 WIB

Tinggallah Beserta kami, ya Tuhan.

Kamis, 16 April 2026 | 06:21 WIB

Bacaan Liturgis pada Kamis Pekan ke-2 Paskah

Rabu, 15 April 2026 | 22:25 WIB
X