Paus Fransiskus benar-benar seorang nabi pinggiran. Ia tidak mencari keamanan di pusat-pusat kekuasaan, dan tidak pula menjadikan kenyamanan Vatikan sebagai tempat berlindungnya.
Sebaliknya, ia mengarahkan hati dan pandangannya ke pinggiran eksistensial umat manusia—kepada mereka yang tangisannya tenggelam dalam wacana global, yang air matanya tidak diperhatikan oleh dunia.
Dengan semangat itu, perhatiannya tertuju pada Myanmar—bangsa yang telah lama menderita, terluka, dan bertahan dari krisis poli.
Meskipun ada tekanan signifikan dari berbagai pihak yang mendesaknya untuk tidak mengunjungi negara kita, dan meskipun banyak tantangan yang membayangi, Paus Fransiskus memilih untuk datang.
Dan dengan melakukan itu, ia menyoroti penderitaan rakyat kita. Keputusannya mengejutkan banyak orang—bahkan di antara negara-negara Katolik di dunia.
Namun baginya, kemanusiaan adalah yang terpenting, dan penderitaan manusia adalah perhatian yang sakral.
Ia jatuh cinta pada rakyat Myanmar—dengan kesabaran, keberanian, dan solidaritas mereka yang luar biasa di tengah krisis yang terus meningkat.
Ketika gelombang kekacauan demi kekacauan melanda negara ini, ia berjalan bersama kita—bukan dari kejauhan, tetapi dalam solidaritas yang emosional dan penuh kasih sayang.
Ia membawa kepedihan kita dalam doa-doanya, dalam pesan-pesannya, dan dalam hatinya.
Lebih dari sembilan kali, ia berbicara di depan umum tentang Myanmar. Ia mengeluarkan pernyataan yang menyentuh hati dan bahkan memimpin Misa khusus untuk perdamaian di tanah kami.
Baca Juga: Presiden Prabowo Utus Jokowi, Thomas Djiwandono, Ignasius Jona dan Pigai Hadiri Pemakaman Paus
Dengan melakukan itu, ia mengingatkan dunia bahwa Myanmar penting, bahwa luka-luka kita tidak dapat disembunyikan, dan bahwa perdamaian itu mungkin.
T: Tentu saja, ia bersikeras untuk tidak pernah melupakan Myanmar...
J:Dukungannya yang tak tergoyahkan dan perhatiannya yang mendalam dan pribadi terhadap penderitaan rakyat kami menyentuh hati yang tak terhitung jumlahnya di seluruh negara kami.
Bahkan ketika alam sendiri berbalik melawan kami dan gempa bumi menghantam kami, Paus Fransiskus tidak mundur.
Artikel Terkait
Jenazah Paus Fransiskus Akan Disemayamkan hingga Pemakaman pada Sabtu Pagi
Urbi Et Orbi – Pamit dan Kembali Ke Rumah Bapa, Selamat Jalan Paus Fransiskus
In Memoriam Paus Fransiskus: Membawa Agama yang Ekologis dan Penuh Kasih
Paus Fransiskus yang 'Asisi' dari Argentina
Kematian Paus Akibat Stroke dan Kolaps Kardiosirkulasi Ireversibel
Datangi Kedubes Vatikan, Menag Nasaruddin Umar Tulis Pesan Duka untuk Paus Fransiskus
Wasiat Paus Fransiskus