Melalui Vatikan, isyarat perhatian dan tindakan belas kasih dikirimkan—penegasan yang tenang namun kuat yang disampaikan kepada rakyat kami bahwa kami tidak pernah dilupakan oleh Bapa Suci.
Yang membuat ini semakin mengharukan bagi rakyat kami adalah bahwa ia melakukan semua ini di senja kepausannya, sambil berjuang melawan penyakit yang mengancam jiwa. Di hari-hari terakhirnya, ketika kebanyakan orang mencari istirahat, ia terus memikul salib dunia yang menderita—Myanmar termasuk di antaranya.
Kenangannya kini terukir dalam jiwa bangsa kita. Rakyat Myanmar tidak akan pernah melupakan seorang gembala yang penuh kasih dan welas asih. Suaranya menjadi gaung kita, jantungnya berdetak bersama kesedihan kita, dan kehadirannya membawa kesembuhan bagi kita.
T: Di hari-hari terakhirnya, ia memohon bantuan bagi negara Anda, dan menawarkan dukungan. Seberapa pentingkah hal ini?
Memang, perhatiannya adalah "balsem yang menyembuhkan rakyat kita." Bayangkan ribuan orang tunawisma, gereja, dan personel gereja yang terpaksa tidur di jalanan, menghadapi ancaman alam setiap hari dan mengalami saat-saat apokaliptik.
Dalam situasi seperti itu, perhatian dan dukungan Paus mengalir seperti seorang ibu yang mengulurkan tangan kepada anaknya yang ketakutan. Tidak hanya umat Katolik, tetapi juga yang lain, ketika mereka mengetahui bahwa Paus Fransiskus berdoa dalam Angelus untuk Myanmar, mereka sangat terhibur.
Umat Kristen kita sendiri merasakan rasa memiliki terhadap keluarga manusia yang luas di mana tidak ada penderitaan atau air mata seorang pun yang terlupakan. Perasaan ini muncul karena Paus Fransiskus proaktif dalam mengulurkan tangan kepada orang-orang.
T: Apa yang Anda lihat sebagai warisan Paus Fransiskus?
Paus Fransiskus akan dikenang dalam sejarah sebagai salah satu murid Yesus yang paling luar biasa—seorang Paus yang secara konsisten berpegang teguh pada inti radikal Injil: kepedulian Tuhan yang tak tergoyahkan bagi individu yang paling rentan, terpinggirkan, dan tersesat.
Di era ketika banyak orang menyerah pada godaan untuk mereduksi iman menjadi kenyamanan dan kesesuaian, ia memiliki keberanian untuk berbicara dengan semangat para nabi dan kelembutan Kristus.
Kata-katanya, yang terkadang meresahkan bagi yang berkuasa dan puas diri, berfungsi sebagai cermin bagi dunia yang telah menjadi tidak peka terhadap ketidakadilan.
Baca Juga: Kilas Balik, 10 Ucapan Paus Fransiskus yang Paling Menyentuh Hati
Khususnya di negara-negara kaya di mana Kekristenan sering kali diputarbalikkan untuk membenarkan hak istimewa dan mengecualikan orang miskin, Paus Fransiskus memusatkan kembali poros asli Injil: kasih Kristus yang tak tergoyahkan bagi yang miskin dan solidaritas ilahi-Nya dengan yang terpinggirkan.
Ia tidak hanya terlibat dalam wacana tentang orang miskin; ia secara aktif berjalan bersama mereka. Ia tidak hanya membela yang tertindas; ia merangkul mereka sebagai miliknya sendiri.
Kepausannya merupakan perwujudan perumpamaan yang hidup—kesaksian bagi Gereja yang tidak boleh tinggal di istana sementara dunia merana di luar gerbangnya.
Artikel Terkait
Jenazah Paus Fransiskus Akan Disemayamkan hingga Pemakaman pada Sabtu Pagi
Urbi Et Orbi – Pamit dan Kembali Ke Rumah Bapa, Selamat Jalan Paus Fransiskus
In Memoriam Paus Fransiskus: Membawa Agama yang Ekologis dan Penuh Kasih
Paus Fransiskus yang 'Asisi' dari Argentina
Kematian Paus Akibat Stroke dan Kolaps Kardiosirkulasi Ireversibel
Datangi Kedubes Vatikan, Menag Nasaruddin Umar Tulis Pesan Duka untuk Paus Fransiskus
Wasiat Paus Fransiskus