Seorang teolog Jepang bernama Kosuke Koyama pernah mengatakan begini:”saya tidak bekerja di Roma dan Swiss atau bekerja dengan Thomas Aquinas atau Karl Barth tetapi dengan para petani di Thailand”.
Apa yang menarik dari kalimat ini bahwa berteologi itu ada locus teologicus-nya dan seorang teolog harus bermain dalam locus teologi ini. Dalam konteks kita, ada banyak gagasan teologis yang muncul dan dikembangkan bahkan diabadikan dalam karya-karya mahaagung dan mahatebal tapi pertanyaannya apa semua itu dapat dipahami, sesuai dengan konteks kita ataukah hanya mengulangi gagasan-gagasan teologi Barat atau diktat kuliah yang dulu pernah dipelajari?
Baca Juga: Aksi Protes Para Imam Katolik di Nigeria: Kami Pastor, Bukan Teroris
Saya mengambil contoh tentang diskusi teologis di seputaran ruang kelas yang sangat jelas menunjukkan adanya tegangan antara liturgi yang hanya terbatas di altar dengan berbagai penekanan ritus, tata gerak dan macam-macamnya dengan liturgi yang diharapkan bisa menyentuh dan menjawabi persoalan praktis umat.
Tentu saja dari perbedaan gagasan teologis-akademis yang muncul ini, rasanya harus diapresiasi sebab menunjukkan adanya pluralitas dalam berteologi tapi menjadi tidak bijak jika kita hanya berhenti pada kepuasan pluralitas ini.
Kita kembali pada diskursus tadi bahwa penekanan yang terlalu berlebihan pada hal-hal ritualis dengan macam-macam soal tanya jawab seputar: apa perlu tidak menggunakan kalimat “Tuhan Sertamu atau Tuhan bersamamu” dan perlu tidaknya menjawab “amin” pada bagian-bagian tertentu dari upacara liturgi ekaristi, rasa saya belum membawa kita pada teologi yang sesungguhnya.
Baca Juga: Tanya Jawab Katolik: Dapatkah indulgensi menjauhkan saya dari api penyucian?
Kita harus berani keluar dari diskusi dan perdebatan soal ini untuk bisa menjawab dan menyentuh apa yang sebenarnya dibutuhkan umat atau apa yang pas, tepat dan cocok dengan cita rasa umat beriman. Kita masih terlalu merasa nyaman dalam berteologi.
Karena itu, rasa saya, seorang teolog harus selalu merasa tidak aman dengan situasi sekitarnya. Teolog harus merasa ada yang selalu menggangu dirinya, mengejar dan berusaha untuk memunculkan gagasan-gagasan yang baru.
Saya mengambil contoh beberapa teolog Asia seperti Kosuke Koyama, Masao Takenaka, ataupun Marianne Kattopo, selalu saja merasa tidak tenang dengan situasi lingkungan hidup mereka. Mereka berteologi dengan sungguh-sungguh berangkat dari realitas dimana mereka ada.
Bila kita menyimak karya dan kisah-kisah mereka akan ditemukan bahwa mereka menulis sesuatu yang sederhana, sesuatu yang berakar dari locus dan tempus mereka hidup. Tulisan-tulisan mereka pun tidaklah terlalu panjang dan tebal yang sebenarnya ingin menunjukkan bahwa ada situasi yang selalu mengancam dan mengejar mereka.
Baca Juga: Lebih dari 700 Imam Katolik Unjuk Rasa Saat Pemakaman Pastor Vitus Borogo
Karena itu, dengan tidak bermaksud menyinggung pribadi tertentu, rasa-rasanya bahwa bila ada teolog kita yang memiliki karya dan tulisan yang bertebal-tebal dan panjang-panjang bisa dikatakan bahwa ia terlalu berada dan merasa nyaman dalam menulis dengan duduk manis di “kursi malasnya” dan tidak merasa bahwa ada realitas diluar dari dirinya yang sangat membutuhkan sentuhan atau uluran tangan dan ide-idenya yang membumi.
Maka, rasa saya akan menjadi lebih baik kita menjadi seorang “teolog jalanan” dari pada seorang “teolog kamaran atau sekolahan” yang hanya bergelut dan bergumul dengan diri dan gagasan kita sendiri.
Hal menarik lain yang perlu diterima dan diakui bahwa teologi kita adalah teologi tulisan. Aspek teoritis tidak heran menjadi fokus utama pembelajaran kita. Kegalauan teologi justru berawal dari sini, dari teologi kita yang adalah teologi sekolahan atau teologi hafalan. Keterjebakkan dalam kedua model ini “sekolahan” dan “hafalan ” ini membuat kita tidak bisa menjadi teolog atau calon teolog yang kreatif dan bisa menemukan sendiri suatu bentuk teologi yang autentik, padahal kita telah dibantu dan dilatih dalam teologi proyek, teologi kontekstual atau sejenisnya untuk bisa berteologi.
Artikel Terkait
Paus Fransiskus Angkat Anggota Baru Komisi Teologi Internasional
Suster Josée Ngalula Perempuan Afrika Pertama Jadi Anggota Komisi Teologi Internasional
Universitas Notre Dame Jadi Tuan Rumah Simposium Teologi Hitam Katolik Tahunan ke-31
Muspas dan Teologi Sinodalitas
Lusius Mite SVD, Calon Misionaris Chicago AS, Lulus dari Prodi Magister Teologi STFK Ledalero dengan IPK 4