Baca Juga: Kunjungan Jokowi ke Ukraina dan Rusia:, Ini Harapan Misionaris dari Indonesia
Pada dasarnya teologi itu mengajarkan kita untuk berpikir dan berefleksi. Tapi kadang kita hanya berhenti pada diskursus teologi sebagai “technical dicipline” sehingga tidak dapat membantu dan membuat orang tidak tahu akan apa yang bisa direfleksikan dari teologi. Teologi justru jatuh pada omongan manis dan indah yang tidak menyentuh realitas dan tidak bisa menjawab banyak pertanyaan.
Teologi kita seolah terbatas dan terkungkung dalam sangkar, kamar, tembok biara dan pikiran kita sendiri. Kita menjadi tidak tahu apa yang terjadi dan pergulatan hidup semacam apa yang sedang dihadapi sesama kita. Berteologi sebenarnya mengangkat pergulatan-pergulatan praksis seperti ini, apalagi dalam konteks kita di Indonesia.
Meminjam kata-kata Steve Jobs yang pernah mengatakan: “teolog itu konsumer dan bukan produser”. Dalam arti bahwa berteologi itu pertama-tama bukan apa yang aku/kita pikirkan tapi apa yang dipikirkan oleh umat. Maka teologi harus lebih bersifat pastoral dan jangan lebih dogmatik yang justru semakin melebarkan jurang antara: doktrin, ritus, struktur dan realitas.
Baca Juga: Orang Sakit dan Lansia Adalah Intensi Doa Paus Fransiskus selama Juli 2022
Kegalauan teologi tidak hanya berhenti disitu tapi akhir-akhir ini makin nampak pada beberapa realitas hidup menggereja. Rasa saya, teologi tidak boleh merasa aman meski sekarang keadaan gereja kelihatan aman dan menggembirakan.Gereja-gereja penuh. Koor hidup. Doa dan devosi adorasi ekaristi lancar. Imam-imam dihargai dan dihormati umatnya.
Teologi seharusnya tidak harus berhenti saja karena keamanan dan kemapanan ini. Teologi harus selalu curiga. Teologi harus selalu merasa resah dengan segala yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, rasa-rasanya teologi harus berani memecah kesempitan akalnya sendiri dan mulai belajar untuk terbuka pada yang lain, terbuka pada pikiran-pikiran baru ataupun pada agama yang lain.
Misalkan saja dalam konteks kita (baca: Indonesia), bila teologi kita hanya asyik dengan ajaran dan ilmunya sendiri dan tidak menyentuh realitas atau agama lain maka teologi kita sudah berada diambang “kematian suri”. Teologi harus berani melawan tantangan ini. Keberanian itu nampak dalam keberanian untuk keluar dari dirinya. Maka pokok-pokok teologi tak hanya lagi soal dogmatik, ekaristi, hukum gereja, teologi sistematik, eksegese, ataupun moral.
Baca Juga: Puji Tuhan, Rabu Kemarin, Paus Emeritus Peringati HUT Tahbisan ke-71
Kegalauan teologi menjadi nyata bila kita hanya ada dalam lingkaran ilmu-ilmu Kristiani saja. Maka teologi harus berani berwacana secara interdisipliner dengan ilmu dan agama-agama lain entah itu sejarah agama-agama, sosiologi agama-agama juga dengan filsafat dan ilmu budaya.
Pada akhir tulisan ini, saya suka dan kembali mengutip kata-kata Kardinal Carlo Maria Martini, beberapa hari menjelang kematiannya.
Kata Kardinl Martini: “The Church was 200 years behind the times”. Liturgi Gereja memang megah dan meriah, busananya gemerlap indah, tapi berhadapan dengan zamannya, Gereja sendiri sesungguhnya kehilangan nyali dan menjadi penakut.
Mengutip Karl Rahner pula Kardinal Martini mengatakan: “Gereja sekarang seperti bara api yang tidak kelihatan nyalanya lagi karena tertutup abu. Kita mesti menyingkirkan abu itu, sampai kita bisa menemukan apinya lagi”.
Baca Juga: Pater Maurimus Dominggus, SVD, Misionaris Asal Indonesia di Brasil Selatan, Berpulang
Rasa-rasanya, Gereja, Teologi dan para teolog sekarang juga sedang lelah dan berbeban berat dengan sikapnya yang harus membela struktur keseragaman, yang demikian mewarnai zaman ke zaman.
Artikel Terkait
Paus Fransiskus Angkat Anggota Baru Komisi Teologi Internasional
Suster Josée Ngalula Perempuan Afrika Pertama Jadi Anggota Komisi Teologi Internasional
Universitas Notre Dame Jadi Tuan Rumah Simposium Teologi Hitam Katolik Tahunan ke-31
Muspas dan Teologi Sinodalitas
Lusius Mite SVD, Calon Misionaris Chicago AS, Lulus dari Prodi Magister Teologi STFK Ledalero dengan IPK 4