• Sabtu, 18 April 2026

Teologi: Tarikan antara "Jalan" dan "Kamar" (Mengenang John Prior SVD)

Abraham Runga Mali, Katolikku
- Minggu, 3 Juli 2022 | 07:52 WIB
Romo Doddy Sasi, Cmf
Romo Doddy Sasi, Cmf

 

Doddy Sasi, Cmf*

Tulisan mini ini saya tulis saat masih sebagai seorang Frater Teologi tingkat akhir di Pontifikal Fakultas Teologi Wedabhakti (FTW) Kentungan Jogjakarta, tahun 2012 yang lalu.

Salah seorang tokoh yang menginspirasi alur pikir dari ide-ide sederhana dalam tulisan ini adalah Pater John M. Prior SVD.

Saya tidak mengenal beliau secara pribadi. Berjumpa tidak pernah. Menjadi dosen saya pun tidak. Saya hanya mengenal beliau melalui buku dan tulisan-tulisannya yang luar biasa, yang sudah tentu sempat pula saya baca.

Baca Juga: Seorang Pekerja SOS Christians Ceritakan Pengalaman Diculik Selama 66 hari Oleh Jihadis di Suriah

Hari ini, 2 Juli 2022, beliau berpulang kembali ke Sang Khalik dan saya teringat akan tulisan ini, tulisan yang bisa dibilang lahir dan terinpirasi dari remah-remah pemikiran beliau.

Dan sebenanrya awalnya (tahun 2012) tulisan ini hadir sebagai sebuah bentuk autokritik pribadi atas satu-dua sisi dari pembelajaran teologi, yang tujuannya bukan untuk menjauhi teologi tapi justru untuk makin membuat saya dan kita, para pembaca lebih mencintai teologi. Tapi hari ini, kalau dijinkan, tulisan ini saya hadirkan ulang untuk mengenang jasa dan pemikiran seorang John M. Prior.

Mengawali bagian tulisan ini, saya akan mengutip kata-kata dari Aloysius Pieris yang mengatakan: “...teolog yang ide teologisnya tidak menyentuh yang lain (realitas) akan menjadi teolog yang kesepian, yang hanya mencari kenyamanan dan kemewahan dalam dirinya sendiri.”

Baca Juga: John Prior, SVD dan Baju Colar itu…

Rasa saya, seorang teolog harus mempunyai “sparing partner”. Teolog yang tidak memiliki sparing partner adalah seorang teolog yang kesepian, seorang teolog yang sedang galau dengan gagasan dan dirinya sendiri.

Ia hanya akan bermain dengan ide-ide teologisnya yang abstrak-idealis, yang kadang kala hanya berpusat pada satu permainan ide teologis tertentu. Misalkan saja, ide teologis yang hanya berpusat pada liturgi atau ekaristi atau tema-tema teologis tertentu rasa-rasanya akan sangat memiskinkan kekayaan dari refleksi teologis yang ada.

Teolog yang tidak berani keluar dari dirinya untuk bisa menyentuh realitas yang lain harus bisa dikatakan bahwa ia adalah seorang teolog yang sedang “galau”. Ia hanya berani dan berlari dari kesepiannya lalu akhirnya akhirnya hanya bergumul dengan Tuhannya sendiri (baca: Spesialisasi ilmunya saja). Kegalauan nampak dalam ketidakberaniannya ini.

Baca Juga: Bible Corner: Berita Kepada Kawan Adalah Berita Damai (bacalah Injil Lukas 10:1-12.17-20)  

Rasa saya, kegalauan seperti ini disebabkan oleh kurangnya perhatian kita atau para teolog kita (konteks kita) dalam memperhatikan dan mementingkan “locus teologicus” kita sebagai orang Indonesia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Abraham Runga Mali

Tags

Artikel Terkait

Terkini

'Ternyata Mesti Ada Batas Ketenaran Itu...'

Jumat, 17 April 2026 | 09:39 WIB

Sebuah Kata Penutup tentang Budaya Katolik

Rabu, 15 April 2026 | 21:42 WIB

'Malam Penuh Cahaya Iman'

Senin, 13 April 2026 | 06:02 WIB

Menghadirkan Wajah Allah Berbelas Kasih

Sabtu, 11 April 2026 | 19:37 WIB

Pengakuan Seorang 'Sumber Rahasia' dari Vatikan

Sabtu, 11 April 2026 | 08:00 WIB

'...tidak percaya' (Non crediderunt)

Sabtu, 11 April 2026 | 07:24 WIB

'Pakaian Kemuridan Tetaplah Kita Kenakan'

Kamis, 9 April 2026 | 18:13 WIB

'Menjadi Murid yang Diinjili

Kamis, 9 April 2026 | 18:01 WIB

Kiranya Mata Iman Kita Senantiasa Terjaga

Rabu, 8 April 2026 | 08:31 WIB

Sari Firman: Memotivasi Diri: Pertobatan Sejati

Selasa, 7 April 2026 | 11:47 WIB

Pesan Inspiratif: Maria Magdalena Menangis

Selasa, 7 April 2026 | 06:15 WIB

'Tuhanku Tak Terkalahkan...'

Selasa, 7 April 2026 | 06:10 WIB

Reuni Galilea

Senin, 6 April 2026 | 08:04 WIB
X