• Sabtu, 18 April 2026

Renungan Katolik, 01 September 2022:(Pekan XXII, St Pedro Armengol, St Verena)

Maximus Ali Perajaka, Katolikku
- Kamis, 1 September 2022 | 10:28 WIB
Pater Kons Beo SVD
Pater Kons Beo SVD

 

Renungan Katolik untuk Kamis, 01 September 2022 (Pekan XXII, St Pedro Armengol, St Verena).

Oleh P. Kons Beo SVD, Roma

Bacaan I 1Korintus 3:18-23
Mazmur Tanggapan Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6
Injil Lukas 5:1-11

"Mereka menangkap sejumlah besar ikan..."
Luk 5:6
(Concluserunt piscium multitudinem capiosam)

JUMLAH ikan yang ditangkap cukup meyakinkan. Padahal sebelumnya, hanya ada kesia-siaan di sepanjang malam. Tak mendapat apa-apa. Itulah yang dialami oleh nelayan-nelayan sederhana.

Baca Juga: Bacaan I Hari Kamis 1 September 2022 (1Korintus 3:18-23)

NAMUN, keadaan tak mendapat 'apa-apa' itu mesti beranjak kepada kisah yang selanjutnya. Saat nelayan sederhana itu mesti beralih pada SUARA yang menyapa. Kepada SUARA yang berkuasa untuk mengubah segalanya.

MAKA, tak hanya sejumlah besar ikan yang ditangkap. Tetapi, bahwa mereka mesti libatkan sahabat-sahabat nelayan lainnya untuk bertindak. Apakah ini tanda dari satu gerak partisipasi dan kerjasama?

NAMUN, di atas segalanya, terdapat kisah yang sungguh luar biasa. Itulah SUARA yang berdaya untuk mengubah: 'yang menangkap (ikan) mesti ditangkap agar bisa jadi penjala manusia. Itulah kehendak dan penyelenggaraan Tuhan yang mesti terjadi pada anak-anak Zebedeus.

KITA bakal tak pernah pastikan seperti apa jalan hidup kita. Semuanya masih terbentang luas dan terbuka. Kita tentu hanya mengukur jalan hidup kita sendiri atau jalan hidup sesama hanya sebatas 'alam danau,' Iya, alam yang biasa-biasa saja.

Baca Juga: Bacaan Injil Hari Kamis 1 September 2022 (Lukas 5:1-11)

ITULAH alam natural. Saat kita memang 'tahu diri seperti Petrus.' Bahwa kita adalah orang berdosa (cf Luk 5:8). Karenanya, sepatutnya tetap tercipta jarak yang jelas tegas antara kita dengan Tuhan. Namun, apakah semuanya itu ada dalam pikiran, kehendak dan penyelenggaraan Tuhan? Nyatanya TIDAK!

TUHAN membunuh rasa takut kita. Yang alami, biasa, tak bersinar cemerlang, yang rapuh dan tak berdaya, justru diteguhkan. Agar memiliki harapan dalam kehendak Tuhan sendiri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Maximus Ali Perajaka

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Renungan 108: Suara Gereja

Sabtu, 18 April 2026 | 14:04 WIB

Menjelajahi Kegelapan Ketakutan

Sabtu, 18 April 2026 | 13:49 WIB

Bacaan Liturgis, Sabtu Pekan kedua Paskah

Jumat, 17 April 2026 | 19:30 WIB

Ratu Surga, Bersukacitalah, Alleluya

Jumat, 17 April 2026 | 14:54 WIB

Putera Allah yang Hidup, Berkatilah UmatMu

Jumat, 17 April 2026 | 14:51 WIB

Rahmat Ilahi Tak Pernah Gagal

Jumat, 17 April 2026 | 11:18 WIB

Tuhan, Perhatikanlah HambaMu.

Kamis, 16 April 2026 | 13:30 WIB

Renungan 106: Tidur dalam Kristus

Kamis, 16 April 2026 | 10:08 WIB

Keyakinan yang Mengubah

Kamis, 16 April 2026 | 10:01 WIB

Tinggallah Beserta kami, ya Tuhan.

Kamis, 16 April 2026 | 06:21 WIB

Bacaan Liturgis pada Kamis Pekan ke-2 Paskah

Rabu, 15 April 2026 | 22:25 WIB
X