TEOLOGI HARAPAN PAUS BENEDIKTUS XVI
(Refleksi Mengenang 40 Hari Pemakamannya dan 10 Tahun Pengunduran Dirinya)
Oleh: Tomi Runesi, Misionaris SVD Chile
Memasuki bulan Februari adalah momen penuh dramatis dalam tubuh Gereja Katolik sedunia sepuluh tahun lalu. Guncangan menghantam Gereja Katolik.
Saat itu tepat tanggal 11 Februari 2023. Raksasa teologi Gereja Katolik dengan nama asli Joseph Alois Kardinal Ratzinger bernama Kepausan Benediktus XVI menyatakan mengundurkan diri dari Takhta Suci Vatikan (Sancta Sede del Vaticano) sebagai pemimpin umat Katolik sedunia.
Dengan refleksi mendalam, ia menyatakan meletakkan jabatan sebagai Paus karena pekerjaan yang berat – apalagi mengurus seluruh dunia – membutuhkan kekuatan selain spiritual tetapi juga kekuatan fisik. Bulan ini, Februari 2023 tepatnya tanggal 11 merupakan peringatan sepuluh tahun pengunduran diri teolog agung Katolik ini.
Bulan Februari tepat tanggal 15, terhitung dari tanggal 5 Januari sejak hari penguburannya. Karena itu, secara liturgis-ekaristik, Paus Benediktus XVI sudah empat puluh hari menjadi ‘benih yang ditanam di perut bumi’.
Bulan ini, tepat tanggal 28 Februari, ia terbang meninggalkan Takhta Suci menuju istana musim panas Castel Gandolfo sebagai seorang Paus Emeritus.
Sebagai benih yang tumbuh dalam harapan eskatologis, ia memasuki kemah surgawi yang penuh kemuliaan. Karena itu, penulis yang saat ini berprofesi sebagai seorang penjelajah teologi (colombus teologicus) yang sudah sejak lama menaruh minat besar di bidang teologi, mencoba untuk menjelajahi teologi harapan Paus Benediktus XVI lewat ensikliknya Spe Salvi (Harapan yang Menyelamatkan).
Penulis menaruh minat besar pada bidang teologi karena salah satu sebab yang memengaruhi penulis adalah teolog agung Joseph Ratzinger (Benediktus XVI). Oleh karena itu, penulis mau mempersembahkan sebuah karya kecil yang tak terlampau bahkan tak berarti di hari peringatan 40 hari pemakaman dan 10 tahun pengunduran dirinya.
Sebelum sampai pada teologi harapan dalam Spe Salvi, penulis terlebih dahulu mengurai kepemimpinan Paus Ratzinger di antara Yohanes Paulus II dan Fransiskus. Hal ini untuk mengungkap teologi harapan yang tersirat baik sebagai Prefek Kongregasi Ajaran Iman maupun sebagai Paus Emeritus di masa Paus Fransiskus.
Benediktus XVI di antara Yohanes Paulus II dan Fransiskus
Pada masa kepemimpinan Paus Yohanes Paulus II, Ratzinger yang kemudian menjadi Paus Benediktus XVI menjadi orang terdekat dan bahkan paling dekat dengan sang Paus.
Artikel Terkait
Dr. Michael Hesemann: 'Benediktus XVI, Panutan bagi kekudusan'
Tepuk Tangan untuk Jenazah Paus Emeritus Benediktus XVI
Suara Surgawi Untuk Paus Silvester dan Paus Benediktus XVI (Catatan Ringan Konser Voix Celestes)
Plt. Dirjen Hadiri Misa Rekuiem Benediktus XVI, Nunsio Apostolik Sampaikan Terima Kasih
Viral, Kardinal Hon Kong Joseph Zen Berdoa dan Menangis di Depan Peti Jenazah Benediktus XVI
Paus Benediktus XVI, Seorang Pujangga Gereja?
Geller 'Tak Lagi di Politica' Setelah Menfitnah Benediktus XVI pada Hari Kematiannya
Santo Maurus, dan Keajaiban Berjalan di Atas Danau Atas Nama Gurunya, Santo Benediktus
Buku Baru Tentang Paus Benediktus XVI Menimbulkan Kontroversi
Benediktus XVI Menggambarkan 'Protestanisasi' Ekaristi dalam Publikasi Anumerta