Kelima, bentuk pengharapan (SS 24-31) dan tempat untuk belajar dan menghayati harapan (SS no. 32-48). Iman dan harapan memiliki bentuk dan tempat yang tidak terpisahkan.
Bentuk pengharapan adalah menguasai dan melindungi alam untuk generasi yang akan datang, kebebasan yang berlandaskan pada keputusan moral dan kesadaran etis, ilmu pengatahuan yang tidak bertentangan dengan iman dan kasih Kristiani, pengertian yang benar dan mendalam akan iman dan pengharapan.
Dari semua bentuk pengharapan ini memiliki ‘tempat sekolah’nya yakni doa, menderita untuk orang lain seperti Kristus menderita untuk semua manusia, dan pengadilan terakhir sebagai tempat untuk belajar bagaimana berpengharapan yang benar.
Gambaran takut akan Allah (timor Dei) dalam pengadilan terakhir adalah tempat yang tepat untuk beriman yang benar dan berpengharapan yang pasti.
Keenam, Maria sebagai model iman dan bintang pengharapan. Dalam diri Maria menurut Paus Benediktus XVI adalah tokoh sentral yang membawa Yesus sang pusat iman dan harapan kepada manusia.
Maria adalah model dan bintang samudra yang membawa manusia menyeberangi lautan pengharapan mulai dari ruang atas (senakel) di Yerusalem yang menantikan Roh Kudus sampai hingga kedatangan Kristus yang kedua kalinya (eskatologi).
Teologi Harapan: Tersirat dan Tersurat
Salah satu kalimat lain dari Benediktus XVI dalam pidato pengunduran dirinya sebagai Penerus Petrus dan Uskup Kota Roma: “With regard to myself, I was to also devotedly serve the Holy Church of God in the future through a life dedicated to prayer” (declaratio 10/02/2013 dalam vatican.va).
Ini merupakan kalimat terakhir dari pidatonya yang menegaskan bahwa ia akan tetap menyertai Bunda Gereja dengan doa-doanya. Evagrius dari Pontus, seorang teolog dan mistikus abad IV menulis “jika engkau adalah seorang teolog, maka berdoalah dengan tekun, dan jika engkau berdoa dengan tekun, engkau adalah seorang teolog” (O.Clement, Sources. Le Mystique...: 1982, p. 162).
Teolog adalah dia yang selalu berdoa dengan tidak jemu-jemunya. Tidak ada satu manusiapun adalah benar-benar teolog sekaligus murid Kristus yang sejati, bila iman akan Kristus tidak diwujudkan secara pribadi oleh pengalaman jumpa secara pribadi dengan Allah.
Bagi saya, Benediktus XVI ketika menyatakan akan menyertai Gereja dengan doa-doanya, maka ia benar-benar seorang teolog sekaligus seorang peziarah doa (the pilgrim of prayer). Ini merupakan tanda akan satu harapan besar yang tersirat bagi perkembangan Gereja sendiri.
Harapan yang tersirat ini sebenarnya telah ia kemukakan sejak ia memohon untuk mengundurkan diri sebanyak dua kali kepada Yohanes Paulus II dari jabatan sebagai prefek kongregasi ajaran iman. Karena baginya menjadi teolog adalah berdoa dan menulis sebagai bagian dari profesi dan panggilannya sebagai teolog.
Teologi Harapan yang tersirat lain adalah tanggal pengumuman pengunduran dirinya. Saat itu, tanggal 11 Februari 2013.
Tanggal 11 Februari sebagai Hari Orang Sakit Sedunia. Secara langsung sang teolog abad XX ini menyatakan dengan jelas bahwa sebuah pekerjaan harus dengan kekuatan spiritual dan kekuatan fisik.
Kekuatan spiritual akan ia jalani di biara Mater Ecclesia sedangkan kekuatan fisik akan dijalani oleh Paus Terpilih setelah pengunduran dirinya.
Artikel Terkait
Dr. Michael Hesemann: 'Benediktus XVI, Panutan bagi kekudusan'
Tepuk Tangan untuk Jenazah Paus Emeritus Benediktus XVI
Suara Surgawi Untuk Paus Silvester dan Paus Benediktus XVI (Catatan Ringan Konser Voix Celestes)
Plt. Dirjen Hadiri Misa Rekuiem Benediktus XVI, Nunsio Apostolik Sampaikan Terima Kasih
Viral, Kardinal Hon Kong Joseph Zen Berdoa dan Menangis di Depan Peti Jenazah Benediktus XVI
Paus Benediktus XVI, Seorang Pujangga Gereja?
Geller 'Tak Lagi di Politica' Setelah Menfitnah Benediktus XVI pada Hari Kematiannya
Santo Maurus, dan Keajaiban Berjalan di Atas Danau Atas Nama Gurunya, Santo Benediktus
Buku Baru Tentang Paus Benediktus XVI Menimbulkan Kontroversi
Benediktus XVI Menggambarkan 'Protestanisasi' Ekaristi dalam Publikasi Anumerta