Sedangkan babak baru Gereja Katolik dalam diri Paus Fransiskus, menyederhanakan iman, harap, dan kasih dalam khasanah teologi misi yang membumi.
Jika tanpa kerendahan hati Paus Benediktus XVI untuk mengundurkan diri, maka saat ini Gereja Katolik belum memiliki ajaran iman yang ekologis (Laudato Si).
Tanpa refleksi yang mendalam untuk mengundurkan diri maka saat ini Gereja Katolik belum memiliki ulasan teologis tentang Keluarga (Amoris laetitiae), teologi tentang Persaudaraan Semesta (Fratteli Tutti), teologi kerahiman (misericordia vultus & misericordia et misera), dan lain-lain.
Sebagai anggota Gereja dalam satu kawanan dengan satu gembala, kita patut bersyukur untuk kerendahan hati Paus Benediktus XVI sehingga muncul wajah baru teologi misi Paus Fransiskus.
Sekilas tentang Ensiklik Spe Salvi
Selama masa kepausan Benediktus XVI, terdapat tiga ensiklik yang diterbitkan. Ketiga ensiklik itu adalah Deus Caritas Est (Allah adalah Kasih), Spe Salvi , dan Caritas in Veritate (Kasih dalam Kebenaran).
Ensiklik keduanya Spe Salvi (Harapan yang Menyelamatkan) diterbitkan pada tanggal 30 November 2007. Ensiklik memang bukan uraian dan penetapan suatu dogma dan ajaran secara ex cathedra dengan kecemerlangan infalibilitas. Tetapi sebagai ajaran resmi seorang Paus yang tidak mengikat secara dogmatis.
Dalam ensiklik Spe Salvi (SS) ini menguraikan tentang teologi harapan dengan strukturnya sebagai berikut: pertama, iman merupakan isi dari pengharapan itu (SS no. 2-3) dan historisitas harapan dengan landasan iman dalam Kitab Suci Perjanjian Baru (KSPB) dan sejarah Gereja Purba (SS no 4-9).
Pada bagian pertama ini, Paus Benediktus XVI menjelaskan secara terperinci mengenai harapan Kristiani yang dihidupi dalam iman.
Beriman kepada Kristus berarti memiliki harapan historis akan dunia yang damai.
Kedua, Harapan akan hidup kekal (SS no. 9-12).
Bagian ini Paus menjelaskan kehidupan kekal sebagai pengharapan yang sempurna akan hidup di hadirat Allah. Kehidupan kekal adalah buah dari pengharapan yang berlandaskan pada iman akan Yesus Kristus.
Ketiga, Harapan Kristiani Bersifat Universal (SS no 13-15). Kesatuan iman akan Yesus menurut Paus pada bagian ini adalah kenyataan sosial yang merangkum segala bangsa (communio) secara keseluruhan (catholicos) ke dalam satu pengharapan akan Firdaus di masa yang akan datang.
Keempat, seperti apa iman dan harapan yang hidup dalam dunia modern? (SS no 16-23). Bagian ini Paus menegaskan bahwa iman dan harapan terus berlayar mengarungi zaman.
Namun iman dan pengharapan tetap setia pada ajaran yang murni. Iman melawan setiap kemajuan yang bertentangan dengan pengharapan. Iman mengikuti dunia namun tidak taat pada dunia. Kemajuan dalam bidang akal budi, kebebasan, dan revolusi industri memberi tantangan pada refleksi akan iman dan pengharapan.
Artikel Terkait
Dr. Michael Hesemann: 'Benediktus XVI, Panutan bagi kekudusan'
Tepuk Tangan untuk Jenazah Paus Emeritus Benediktus XVI
Suara Surgawi Untuk Paus Silvester dan Paus Benediktus XVI (Catatan Ringan Konser Voix Celestes)
Plt. Dirjen Hadiri Misa Rekuiem Benediktus XVI, Nunsio Apostolik Sampaikan Terima Kasih
Viral, Kardinal Hon Kong Joseph Zen Berdoa dan Menangis di Depan Peti Jenazah Benediktus XVI
Paus Benediktus XVI, Seorang Pujangga Gereja?
Geller 'Tak Lagi di Politica' Setelah Menfitnah Benediktus XVI pada Hari Kematiannya
Santo Maurus, dan Keajaiban Berjalan di Atas Danau Atas Nama Gurunya, Santo Benediktus
Buku Baru Tentang Paus Benediktus XVI Menimbulkan Kontroversi
Benediktus XVI Menggambarkan 'Protestanisasi' Ekaristi dalam Publikasi Anumerta