Mengapa tidak? Karena jabatannya sebagai Prefek Kongregasi Ajaran Iman, maka ia merupakan orang kedua dalam kuria Roma sesudah Paus.
Jabatan strategis ini memungkinkan interaksi paling intens antara keduanya di luar agenda Kepausan. Bahkan Ratzinger turut memengaruhi seluruh masa kepausan Paus Yohanes Paulus II. Terutama dalam ensiklik-ensiklik yang bernuansa filosofis – teologis.
Dokumen Dominus Iesus karya Ratzinger adalah salah satu bukti pengaruhnya selama masa kepausan Paus asal Polandia ini. Meskipun keduanya adalah sahabat dalam kepausan namun keduanya tetap berbeda dalam karakter.
Yohanes Paulus II berwajah teduh, Ratzinger berwajah tampan. Yohanes Paulus II adalah pemimpin Gereja dan jembatan antara abad XX dan XXI. Benediktus XVI pemimpin pembuka abad XXI. Yohanes Paulus II memimpin Gereja dengan perjalanan apostolik terpanjang dalam sejarah. Benediktus XVI penjaga pintu Tradisi Gereja (the Guardian of Church Doctrine) tak tertandingi dengan keahlian sebagai teolog.
Yohanes Paulus II selama kepemimpinannya mampu menarik peziarah datang ke Vatikan untuk ‘melihatnya’. Benediktus XVI menarik peziarah datang ke Vatikan untuk ‘mendengarnya’.
Hal itu, karena ia adalah seorang pengajar, pengkhotbah ulung dan orator akademik-ilmiah kenamaan. Yohanes Paulus II memimpin Gereja sampai akhir hayatnya. Benediktus XVI memimpin Gereja hanya sampai ‘tengah jalan’.
Yohanes Paulus II meninggal pada usia 85 tahun, Benediktus XVI mengundurkan diri pada usia 85 tahun. Sebab bagi Yohanes Paulus II, tugas dan tanggung jawab harus seperti Yesus yang bertanggung jawab bagi umat manusia hingga tak pernah turun dari kayu salib.
Bagi Benediktus XVI, tugas dan tanggung jawab membutuhkan kekuatan spiritual juga kekuatan fisik. Bahkan selama masa kepausan Yohanes Paulus II, Ratzinger kala itu, pernah mengajukan pengunduran diri sebagai perdana Menteri Ajaran Iman.
Ia mengundurkan diri dengan maksud hanya berfokus di bidangnya sebagai ilmuwan dan teolog yang mendedikasikan panggilan hidupnya sebagai penulis dalam berbagai persoalan teologi. Lebih dari itu, mau mendedikasikan dirinya sebagai pendoa bagi gereja semesta.
Selanjutnya Benediktus XVI seusai mengundurkan diri sebagai Paus menaruh harapan besar pada Paus baru yang terpilih. Hal ini nampak dalam pidato pengunduran dirinya pada tanggal 11 Februari 2013.
Salah satu pernyataannya: “saat ini, marilah kita percayakan Gereja Kudus kepada Yesus Kristus dan Bunda Maria bagi para Kardinal yang bertanggungjawab untuk memilih Paus yang baru” (declaratio 10/02/2013 dalam vatican.va).
Selama 10 tahun, Paus Emeritus mendedikasikan dirinya sebagai pendoa bagi Gereja Katolik di biara Mater Ecclesiae, Vatikan. Pengunduran dirinya sebagai Paus memungkinkan bahwa Gereja Katolik memasuki suatu babak baru.
Selama kepemimpinannya, ajarannya berkutat di sekitar iman, harapan dan kasih. Buktinya, ensiklik pertamanya berjudul Allah adalah Kasih (Deus Caritas Est) pada tahun 2005.
Ensiklik kedua terbit tahun 2007 dengan judul Harapan yang Menyelamatkan (Spe Salvi). Ensiklik ketiga adalah Kasih dalam Kebenaran (Caritas in Veritate) terbit tahun 2009.
Sedangkan ensiklik keempat yang belum selesai tentang Terang Iman (Lumen Fidei) yang akhirnya dilanjutkan oleh Paus Fransiskus sebagai ensiklik pertama dalam masa kepausannya dan terbit pada tahun 2013.
Artikel Terkait
Dr. Michael Hesemann: 'Benediktus XVI, Panutan bagi kekudusan'
Tepuk Tangan untuk Jenazah Paus Emeritus Benediktus XVI
Suara Surgawi Untuk Paus Silvester dan Paus Benediktus XVI (Catatan Ringan Konser Voix Celestes)
Plt. Dirjen Hadiri Misa Rekuiem Benediktus XVI, Nunsio Apostolik Sampaikan Terima Kasih
Viral, Kardinal Hon Kong Joseph Zen Berdoa dan Menangis di Depan Peti Jenazah Benediktus XVI
Paus Benediktus XVI, Seorang Pujangga Gereja?
Geller 'Tak Lagi di Politica' Setelah Menfitnah Benediktus XVI pada Hari Kematiannya
Santo Maurus, dan Keajaiban Berjalan di Atas Danau Atas Nama Gurunya, Santo Benediktus
Buku Baru Tentang Paus Benediktus XVI Menimbulkan Kontroversi
Benediktus XVI Menggambarkan 'Protestanisasi' Ekaristi dalam Publikasi Anumerta