kata-mereka

Teologi Harapan Paus Benediktus XVI

Senin, 27 Februari 2023 | 19:52 WIB
Paus Benediktus berjalan-jalan di taman sambil berdoa Rosario

TEOLOGI HARAPAN PAUS BENEDIKTUS XVI

(Refleksi Mengenang 40 Hari Pemakamannya dan 10 Tahun Pengunduran Dirinya)

Tomi Runesi, SVD

Oleh: Tomi Runesi, Misionaris SVD Chile

Memasuki bulan Februari adalah momen penuh dramatis dalam tubuh Gereja Katolik sedunia sepuluh tahun lalu. Guncangan menghantam Gereja Katolik.

Saat itu tepat tanggal 11 Februari 2023. Raksasa teologi Gereja Katolik dengan nama asli Joseph Alois Kardinal Ratzinger bernama Kepausan Benediktus XVI menyatakan mengundurkan diri dari Takhta Suci Vatikan (Sancta Sede del Vaticano) sebagai pemimpin umat Katolik sedunia.

Dengan refleksi mendalam, ia menyatakan meletakkan jabatan sebagai Paus karena pekerjaan yang berat – apalagi mengurus seluruh dunia – membutuhkan kekuatan selain spiritual tetapi juga kekuatan fisik. Bulan ini, Februari 2023 tepatnya tanggal 11 merupakan peringatan sepuluh tahun pengunduran diri teolog agung Katolik ini.

Bulan Februari tepat tanggal 15, terhitung dari tanggal 5 Januari sejak hari penguburannya. Karena itu, secara liturgis-ekaristik, Paus Benediktus XVI sudah empat puluh hari menjadi ‘benih yang ditanam di perut bumi’.

Bulan ini, tepat tanggal 28 Februari, ia terbang meninggalkan Takhta Suci menuju istana musim panas Castel Gandolfo sebagai seorang Paus Emeritus.

Sebagai benih yang tumbuh dalam harapan eskatologis, ia memasuki kemah surgawi yang penuh kemuliaan. Karena itu, penulis yang saat ini berprofesi sebagai seorang penjelajah teologi (colombus teologicus) yang sudah sejak lama menaruh minat besar di bidang teologi, mencoba untuk menjelajahi teologi harapan Paus Benediktus XVI lewat ensikliknya Spe Salvi (Harapan yang Menyelamatkan).

Penulis menaruh minat besar pada bidang teologi karena salah satu sebab yang memengaruhi penulis adalah teolog agung Joseph Ratzinger (Benediktus XVI). Oleh karena itu, penulis mau mempersembahkan sebuah karya kecil yang tak terlampau bahkan tak berarti di hari peringatan 40 hari pemakaman dan 10 tahun pengunduran dirinya.

Sebelum sampai pada teologi harapan dalam Spe Salvi, penulis terlebih dahulu mengurai kepemimpinan Paus Ratzinger di antara Yohanes Paulus II dan Fransiskus. Hal ini untuk mengungkap teologi harapan yang tersirat baik sebagai Prefek Kongregasi Ajaran Iman maupun sebagai Paus Emeritus di masa Paus Fransiskus.

Benediktus XVI di antara Yohanes Paulus II dan Fransiskus

Pada masa kepemimpinan Paus Yohanes Paulus II, Ratzinger yang kemudian menjadi Paus Benediktus XVI menjadi orang terdekat dan bahkan paling dekat dengan sang Paus.

Halaman:

Tags

Terkini

'Ternyata Mesti Ada Batas Ketenaran Itu...'

Jumat, 17 April 2026 | 09:39 WIB

Sebuah Kata Penutup tentang Budaya Katolik

Rabu, 15 April 2026 | 21:42 WIB

'Malam Penuh Cahaya Iman'

Senin, 13 April 2026 | 06:02 WIB

Menghadirkan Wajah Allah Berbelas Kasih

Sabtu, 11 April 2026 | 19:37 WIB

Pengakuan Seorang 'Sumber Rahasia' dari Vatikan

Sabtu, 11 April 2026 | 08:00 WIB

'...tidak percaya' (Non crediderunt)

Sabtu, 11 April 2026 | 07:24 WIB

'Pakaian Kemuridan Tetaplah Kita Kenakan'

Kamis, 9 April 2026 | 18:13 WIB

'Menjadi Murid yang Diinjili

Kamis, 9 April 2026 | 18:01 WIB

Kiranya Mata Iman Kita Senantiasa Terjaga

Rabu, 8 April 2026 | 08:31 WIB

Sari Firman: Memotivasi Diri: Pertobatan Sejati

Selasa, 7 April 2026 | 11:47 WIB

Pesan Inspiratif: Maria Magdalena Menangis

Selasa, 7 April 2026 | 06:15 WIB

'Tuhanku Tak Terkalahkan...'

Selasa, 7 April 2026 | 06:10 WIB

Reuni Galilea

Senin, 6 April 2026 | 08:04 WIB